BANTUL – Dewan Pengurus Daerah (DPD) Real Estate Indonesia (REI) DIY tidak lagi menjadikan Kabupaten Bantul dalam membangun rumah subsidi. Harga tanah yang tinggi menjadi faktor penyebab. Sehingga saat ini, Bantul sejajar dengan Sleman dan Kota Jogja. Padahal, Bantul pernah menjadi prioritas utama penyedia rumah subsidi bagi anggota REI DIY. Lantaran di Sleman dan Kota Jogja sudah tidak memungkinkan.
Ketua DPD REI DIY Ilham Muhammad Nur mengungkapkan, harga tanah yang cepat naik di Bantul lantaran kehadiran jalur jalan lintas selatan (JJLS). Pembangunan infrastruktur itu akan menghubungkan Bantul dengan Gunungkidul dan Kulon Progo di sisi selatan. “JJLS memicu pertumbuhan ekonomi. Tetapi harga tanah juga naik cukup tinggi,” katanya, Kamis (27/3/2025).
Menurutnya, kondisi tersebut mengakibatkan anggota REI DIY tidak menemukan harga tanah di sekitar JJLS yang bisa disesuaikan dengan harga jual rumah bersubsidi. Lanjutnya, DIY sendiri mendapat jatah pembangunan rumah subsidi mencapai 400 unit dari pusat pada tahun lalu. Sedangkan untuk 2025 ini belum diketahui kuota yang dicanangkan pusat.
Ilham mengungkapkan, meskipun ada program 3 juta rumah subsidi yang dicanangkan pemerintah tahun ini, namun bisa dipastikan jumlah kuota untuk DIY terkait rumah subsidi menurun. “Di DIY rumah subsidi dihargai Rp 160 juta ukuran bangunan maksimal 36 meter persegi,” sambungnya.
Baca Juga: Dinas Pariwisata Gunungkidul Targetkan 130 Ribu Kunjungan Wisata Selama Libur Lebaran 2025
Bantul yang tidak lagi menjadi prioritas membangun rumah subsidi akhirnya posisinya digeser Gunungkidul atau Kulon Progo. Sekalipun lokasinya berada jauh dari perkotaan atau kawasan tempat kerja, tetap akan dipilih konsumen. Alasannya karena opsi yang ada demikian daripada harus memilih mengontrak bertahun-tahun. “Alternatif lainnya adalah memiliki rumah susun milik sendiri atau Rusunami,” bebernya.
Baca Juga: Tawur Agung Proses Penyucian Alam Semesta Akan Dihadiri Gibran Rakbuming Raka
Menurutnya, Rusunami sangat memungkinkan dibangun di kawasan penyangga Kota Jogja. Kawasan seperti Piyungan maupun Sedayu dapat menjadi lokasi penopang yang akan diminati konsumen. Namun, Rusunami yang belum begitu akrab di Bantul ataupun DIY tentu menjadi kendala tersendiri.
“Masih gegar budaya atau culture shock antar penghuni rumah susun dengan warga sekitarnya di Bantul atau DIY,” ungkapnya. Terlebih lagi, belum banyak orang yang ingin tinggal di rumah susun karena mereka harus berbagi ruang dan pemandangan yang sama.
Baca Juga: Dipastikan Bebas Lubang Jelang Lebaran, Seluruh Jalan Nasional di DIY Aman Dilewati Pemudik
Memang untuk memiliki rumah pribadi di Bantul masih menjadi sesuatu hal yang sulit untuk dicapai atau direalisasikan. Seperti misalnya diutarakan seorang guru di Bantul Lusi Suharyati yang masih kesulitan karena harganya yang tinggi meskipun di kapanewon yang terhitung jauh dari peradaban. (rul)
Editor : Sevtia Eka Novarita