Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

28 Persen Penderita TBC di Bantul Adalah Anak Balita, Kasus Selama 2024 Tercatat hingga 1.495 Orang

Khairul Ma'arif • Selasa, 11 Februari 2025 | 14:45 WIB

 

 

SOSIALISASI: Dinas Kesehatan DIJ Menggelar Sosialisasi Dukungan Umpan Balik Pasien TBC di Kantor Dinas Kesehatan DIJ, Rabu (27/9).Winda Atika Ira P / Radar Jogja
SOSIALISASI: Dinas Kesehatan DIJ Menggelar Sosialisasi Dukungan Umpan Balik Pasien TBC di Kantor Dinas Kesehatan DIJ, Rabu (27/9).Winda Atika Ira P / Radar Jogja

BANTUL - Penderita tuberkulosis (TBC) di Bantul pada 2024 mencapai 1.495 orang. Sebanyak 28 persen di antaranya merupakan anak berusia di bawah lima tahun (balita). Jumlahnya mencapai 418 orang.

Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul Feranose Panjuantiningrum mengatakan, kasus terbanyak ditemukan di Kapanewon Sewon. Jumlahnya 11 persen atau 164 orang.

Menurutnya, faktor penyebab TBC di Bantul karena infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri tersebut dapat menyebar ketika seseorang menghirup percikan ludah atau droplet dari penderita TBC. “Saat penderita batuk, bicara, maupun bersin,” ungkapnya Senin (10/2/2025).

Menurutnya, perlu penerapan perilaku hidup bersih dan sehat atau PHBS agar terhindar dari TBC. “Lantas etika batuk pun harus diterapkan,” sambungnya.

Hal tersebut utamanya untuk penderita TBC. Sehingga tidak menyebarkan virusnya dengan begitu tidak ada penambahan kasus baru.

Sebab di tahun ini, sudah ditemukan 88 kasus TBC baru. Jumlah itu tercata sejak awal Januari 2025. Berdasarkan data masing-masing puskesmas, klinik, dan rumah sakit. Namun untuk saat ini, belum bisa dideteksi kalangan usia yang terkena TBC. “Karena analisisnya per tiga bulan,” tuturnya.

Feranose menyebut, penanganan dini penting dilakukan saat gejala TBC muncul. Terlebih obat TBC sudah disediakan gratis oleh pemerintah. Sebab jika tidak ditangani dengan tepat, bukan tidak mungkin TBC menyebabkan kematian. “Di Bantul belum bisa di data kematian akibat TBC karena belum ada mekanisme auditnya,” ucapnya.

Sementara itu, Sekretaris Komisi D DPRD Bantul Herry Fahamsyah menilai, kasus TBC terhadap warga Bantul harus menjadi perhatian serius. Dinas kesehatan perlu melakukan tindakan preventif dalam penanganan TBC. "Karena bagaimanapun TBC penyakit menular," tegasnya. (rul/eno)

 
Editor : Sevtia Eka Novarita
#orang #penderita #mycobacterium tuberculosis #tuberkulosis (TBC) #kapanewon sewon #infeksi bakteri #anak #perilaku hidup bersih dan sehat #Bantul #phbs #tbc #Berusia #Dinas Kesehatan (Dinkes) #balita