Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mentan Andi Amran Sulaiman Belanja Masalah di Bantul, Langsung Berdialog dengan Para Petani, Bantuan Akan Langsung Disalurkan

Khairul Ma'arif • Kamis, 16 Januari 2025 | 01:09 WIB

 

TURUN LAPANGAN: Menteri Pertanian Amran mengunjungi petani di Bantul Rabu (15/1/2025). Lokasi yang dikunjungi yakni di Ngabean, Pandak dan Kuwaru, Srandakan.
TURUN LAPANGAN: Menteri Pertanian Amran mengunjungi petani di Bantul Rabu (15/1/2025). Lokasi yang dikunjungi yakni di Ngabean, Pandak dan Kuwaru, Srandakan.
  

BANTUL - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman melakukan kunjungan ke Kabupaten Bantul  Rabu (15/1/2025). Tujuannya untuk belanja masalah. Sebab dia langsung turun langsung berdialog dengan para petani.

Kunjungan pertamanya ada di Padukuhan Ngabean, Triharjo, Pandak. Kedatangannya langsung menuju lahan persawahan. Lokasi kedua menyasar Padukuhan Kuwaru, Poncosari, Srandakan.

Dia mengaku, banyak mendapatkan informasi tertkait masalah penanaman padi di Bantul. Kebanyakan petani, masih belum memiliki alat pendukung untuk pertanian. Bahkan alat-alat pertanian di gabungan kelompok tani (gapoktan) masih sangat kurang.

Oleh karena itu, bantuan kepada gapoktan di dua lokasi akan dilakukan. Berupa tiga combine harvester, 10 pompa air untuk pengairan sawah, satu traktor, dan tiga hand sprayer.  

“Saya harap paling lambat satu pekan setelahnya sudah disalurkan ini,” tegasnya.

Khusus di Kuwaru, lanjutnya, ada bantuan tambahan berupa benih padi. Karena lahan persawahannya terdampak banjir pada Desember 2024 yang mengakibatkan gagal panen. Total bantuan benih diberikan sebanyak 3.507 kilogram untuk luasan lahan 140,28 hektare.

Menurutnya, bantuan Kementerian Pertanian untuk Bantul tahun lalu mencapai Rp 10,93 miliar. Anggaran sebanyak itu diperuntukan untuk benih padi dan jagung, pompa air, combine harvester, traktor roda dua, hand sprayer, irigasi perpompaan besar wilayah tengah, dan irigasi perpipaan.

Masalah lainnya adalah pada penyerapan gabah lokal. Dengan adanya Bulog, diharapkan gabah petani bisa langsung terserap. Terlebih kini harga pembelian pemerintah (HPP) untuk gabah dari Rp 6.000 menjadi Rp 6.500 per kilogram. “Penyerapan gabah kunci swasembada pangan,” tegasnya.

Menurutnya, ketika penyerapan gabah bermasalah maka efek dominonya terhadap target swasembada pangan tidak tercapai. Dia pun khawatir terkait serapan gabah di Bantul yang masih di bawah HPP. Yakni Rp 5.500 per kilogram. Jika ini dibiarkan, akan menimbulkan kerugian saat panen raya. Dengan total 25 juta ton gabah saat panen raya, kerugian ditaksir mencapai Rp 25 triliun bagi petani.

 

Sementara itu, Pemimpin Wilayah Perum Bulog Kanwil Jogja Ninik Setyowati memastikan akan melaksanakan arahan tersebut. Dipastikan, gabah hasil petani di DIJ akan diserap seluruhnya tanpa terkecuali. Tentunya, hal tersebut akan disesuaikan dengan Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional RI No. 2 Tahun 2025.

Dia mengklaim, Bulog Kanwil Jogja selalu melakukan sosialisasi dan koordinasi dengan dinas pertanian, gapoktan, penggilingan terkait HPP yang baru. “Diharapkan ada pemahaman yang sama mengenai harga dan kualitas yang ditentukan," ujarnya. (rul/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#penanaman padi #Triharjo #kabupaten bantul #bantuan #Harga Pembelian Pemerintah #srandakan #Belanja masalah #bulog #peranian #kunjungan #hpp #andi amran sulaiman #gabah #Bantul #gapoktan #dialog #menteri pertanian (mentan) #Pandak #Poncosari