Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

94 Sapi di Kabupaten Bantul Terjangkit PMK Akhir Tahun 2024, 11 Ekor di Antaranya Mati, Tersebar di Tiga Kapanewon

Khairul Ma'arif • Sabtu, 4 Januari 2025 | 11:40 WIB
Ilustrasi Sapi terkena PMK.
Ilustrasi Sapi terkena PMK.

BANTUL - Kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) juga ditemukan di Kabupaten Bantul. Sebanyak 94 ekor sapi yang terjangkit, dan 11 di antaranya mati. Jumlah tersebut hanya tercata selama Desember 2024.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul Joko Waluyo menyebut, sebelumnya ditemukan kasus PMK. Namun jumlahnya sedikit. Setelah diobati, sapi dinyatakan sembuh.

Sedangkan untuk kasus 94 ekor terjangkit PMK, 11 sapi yang mati tersebar di tiga kapanewon. “Di Bambanglipuro, Kretek dan Pundong," ujarnya Jumat (3/1/2024).

 Baca Juga: Hasil Brisbane Roar vs Central Coast Mariners: The Roar Takluk, Rafael Struick Kembali Mendapatkan Waktu Bermain Yang Minim

Menurutnya, sapi yang terkena PMK sudah diberikan vaksin. Sedangkan untuk penanganannya, hanya diobati. Kemudian dilakukan isolasi selama dua pekan. Saat ini, vaksinasi pun masih terus dilakukan. Terakhir menyasar 249 ekor sapi pada 30-31 Desember 2024. 


Sementara itu, Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DKPP Bantul Novriyeni menuturkan, empat sapi mati ada di Bambanglipuro. Enam lainnya di Kretek, dan satu sisanya di Pundong.

 Baca Juga: Retribusi Pasar 2024 Kulon Progo Tak Mencapai Target: Disdagin Sebut Dampak Deflasi, Pedagang Sebut Kucing-Kucingan dengan Petugas

Sedangkan untuk sebaran 94 sapi yang terjangkit PMK, ada di lima kapanewon. "Bambanglipuro, Kretek, Pleret, Pundong, dan Sanden," lontarnya.

Disebutkan, Kretek menjadi kapanewon dengan sapi terjangkit PMK terbanyak mencapai 62 ekor. Sedangkan yang paling sedikit di Pleret hanya satu ekor saja.

Untuk vaksin yang disalurkan di akhir Desember 2024, menyasar sembilan kapanewon. Yakni Kretek, Piyungan, Imogiri, Sanden, dan Pandak masing-masing 25 dosis. Kemudian Jetis tujuh dosis, Pleret 50, Dlingo 49, dan Pajangan 18 dosis. 


Peternak di Seloharjo, Pundong, Santoso mengaku, sudah sebulan terakhir dia waspada menghadapi PMK. Sebab jika ternak terjangkit, akakn membuat harga jual turun.
"Dari Rp 17 juta per ekor jadi Rp 15 juta," sebutnya.

Sejumlah antisipasi sudah dilakukannya agar sapinya terhindar dari PMK. Di antaranya selalu menjaga kebersihan.

Santoso memiliki empat sapi yang diternaknya sendiri. Namun, dia masih merasa bersyukur tidak ada sapinya yang terpapar PMK.

Baca Juga: Jadwal Pelantikan Kepala Daerah Mundur di Bulan Maret 2025, KPU Kota Jogja Masih Tunggu Arahan dari Pusat

Sementara itu, ada juga peternak sapi lainnya Budi Santosa yang terletak di Murtigading, Sanden. Pria yang juga berbisnis jual beli sapi itu juga sangat khawatir terhadap PMK. Selain membunuh sapi secara fisik tetapi juga mematikannya secara harga.

"Harga jual sapi turun Rp 2 juta sampai Rp 3 juta," tuturnya. Bahkan parahnya untuk sapi siap potong penurunan harganya bisa sampai setengahnya. Menurutnya, sapi siap potong yang dalam keadaan sehat dijual Rp 30 juta sedangkan yang terpapar PMK dihargai Rp 15 juta.

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#ekor #vaksin #kabupaten bantul #dkpp #Dosis #isolasi #PMK #Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian #Bantul #kapanewon #sapi #Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) #kasus #vaksinasi