Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Bantul Kekurangan Psikolog Klinis, Angka Bundir Naik Tajam, 2023 Terjadi 8 Kasus, Tahun Ini 22

Khairul Ma'arif • Rabu, 11 Desember 2024 | 14:45 WIB

 

Ilustrasi bunuh diri
Ilustrasi bunuh diri
 

BANTUL - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul mencatat ada peningkatan jumlah kasus bunuh diri (bundir). Tahun lalu terjadi delapan kasus, sedangkan 2024 ini mencapai 22 berdasarkan laporan yang masuk ke Dinkes Bantul. Sedangkan jika merujuk data dari Polres Bantul, sepanjang 2024 ini ada 25 kasus bunuh diri.

Peningkatannya tentu hampir tiga kali lipat dari 2023 ke 2024. Kepala Seksi Gizi, Kesehatan Keluarga dan Kesehatan Jiwa Dinkes Bantul Siti Marlina mengatakan, gejala gangguan jiwa depresi menjadi penyebab bunuh diri nomor satu. Disusul faktor ekonomi dan masalah keluarga.

"Faktor-faktor itu yang menjadikan depresi berat. Dukungan keluarga dan masyarakat kurang mengenali, jadi ada ide bunuh diri," katanya kemarin (10/12). Kondisi semacam itu sudah masuk depresi berat.

Seharusnya ada pemantauan dan tidak bisa dibiarkan sendirian.  Depresi berat memunculkan halusinasi bisikan bunuh, sehingga semestinya mendapat rawat inap instensif untuk diobati dan dipantau tenaga kesehatan (nakes).

Penderita depresi berat ketika tidak mendapat perhatian keluarganya akan merasa sendirian, tidak punya siapa-siapa. Perempuan yang biasa disapa Lina ini mengungkapkan, di Bantul ada delapan psikolog klinis yang mengampu  16 puskesmas. "Jadi kami masih kekurangan banyak tenaga psikolog klinis," tambahnya.

Menurutnya, seseorang yang merasa depresi ataupun gangguan mental sebenarnya bisa langsung ke puskesmas. Kecemasan dan stres juga masuk dalam gangguan jiwa ringan. Dinkes Bantul melalui puskesmas sudah melakukan skrining jiwa di seluruh wilayahnya.

Teknisnya bahkan sudah digital dengan barcode ataupun google form. "Seratus ribu sudah kami lakukan skrining 6 persen, di antaranya ada yang bermasalah, ada yang hasil abnormal atau gangguan kejiwaan," bebernya. Namun untuk tindak lanjutnya masih kesulitan, karena sumber daya kesehatan dengan konseling terbatas.

Kendati begitu, Lina menegaskan, sudah ada Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM) sampai tingkat masyarakat. Menurutnya, pemicu lain bunuh diri karena banyaknya konten atau sebaran informasi terkait aksi serupa sehingga memantik seseorang melakukan. "Kami sudah edukasi masyarakat masalah kesehatan kejiwaan, mulai dari gejala agar ada kesiapsiagaan," tegasnya.

Kapolres Bantul AKBP Michael Risakotta menambahkan, dari temuan kasus bunuh diri yang tercatat kepolisian karena deperesi, menandakan ada kecenderungan menganggap remeh kesehatan jiwa. Terutama dari lingkaran terdekat seperti keluarga, seharusnya menjadi pengingat bagi seorang yang mengalami depresi. Menurutnya, semestinya ketika dirasa depresi harus mendatangi atau ditangani psikolog klinis. (rul/laz)

 

Editor : Heru Pratomo
#psikolog klinis #kecemasan #bundir #dinkes #dinas kesehatan #bunuh diri #Bantul #depresi berat #puskesmas