BANTUL - Human Immunodeficiency Virus (HIV) Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) masih menjadi persoalan kesehatan di Kabupaten Bantul.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul mencatat, untuk 2024 ada sebanyak 127 kasus dan itu pun pendataannya baru sampai September.
Sedangkan pada tahun sebelumnya, ada sebanyak 180 baru yang ditemukan.
Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Dinkes Bantul Feranose Panjuantiningrum mengatakan, temuan kasus baru tersebut tentunya didasarkan pada skrining yang sudah dilakukan.
Menurutnya, pada 2023 skrining telah dilakukan sebanyak 20.712 tes dan 2024 sampai September sudah mencakup 20.736 skrining.
"Temuan kasus baru didominasi jenis kelamin laki-laki," kata Feranose, Rabu (4/12/2024).
Dia membeberkan, rata-rata faktor penyebab HIV/AIDS di Bantul paling banyak ditemukan pada kelompok risiko heteroseksual dengan perilaku seks yang tidak aman.
Bahkan menjurus ke tindakan yang sering berganti-ganti pasangan dalam berhubungan badan.
Menurutnya, penularan HIV secara umum dapat menyebar melalui tiga cara.
"Penularan HIV/AIDS paling umum ditemukan melalui hubungan seksual," sambungnya.
Selain itu, lanjutnya, melalui parenteral atau produk darah yang menular lewat transfusi darah atau lainnya yang sudah terkotori.
Ada juga penularan dari ibu ke anaknya ketika masih dalam kandungan ataupun saat menyusui.
Feranose mengungkapkan, selama ini pengobatan orang dengan HIV atau ODHIV di Bantul melalui terapi obat anti retroviral (ARV).
Setiap pengidap akan rutin mengkonsumsi ARV setiap hari seumur hidupnya yang bisa diakses melalui layanan perawatan dukungan pengobatan (PDP).
"Di Bantul sebanyak 27 fasilitas kesehatan dapat memberikan layanan PDP," tegasnya.
Obat ARV merupakan program yang disediakan pemerintah.
Untuk mengtahui evaluasi pengobatannya setiap ODHIV perlu melakukan pemeriksaan viral load minimal setahun sekali.
Menurutnya, di Bantul masih terdapat stigma negatif terhadap ODHIV sehingga kecenderungannya bersikap tertutup untuk pengobatan.
Feranose mengakui, kondisi itu menjadi kendala instansinya dalam pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS.
Selain itu, perilaku kelompok berisiko belum aman sehingga rentan terhadao peningkatan penularan.
"Kepatuhan berobat masih belum optimal sehingga angka lost to follow up dalam pengobatan ARV masih cukup tinggi," tuturnya.
Lanjutnya, bagi ODHIV, selalu kontrol rutin ke layanan untuk pengambilan obat diikuti juga dengan konsumsi ARV yang teratur.
Dia mengimbau, agar masyarakat menghindari hubungan seks bagi yang belum menikah. Harus menggunakan kondom pada perilaku seks berisiko.
Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Bantul pun turut dalam upaya pencegahan.
Di antaranya dengan edukasi ke kalangan remaja sekolah, karang taruna hingga mencakup masyarakat umum di padukuhan yang ada di Bantul.
Selain itu, Direktur Eksekutif PKBI Bantul Esti Yulianingsih menambahkan, diberikan kondom gratis bagi kalangan pekerja seks dan transpuan sebagai alat pencegah penularan HIV/AIDS.
"Di Bantul kolaborasi antara pemerintah dengan NGO seperti PKBI ada pendamping kelompok sebaya dan pendamping untuk penguatan keluarga," ungkapnya.
Dia menilai, penanganan HIV/AIDS di Bantul sudah bagus.
Apalagi ditambah hampir seluruh puskesmas di Bantul sudah tersedia pengambilan obat ARV dan layanan Voluntary Counseling and Testing (VCT). (rul)
Editor : Meitika Candra Lantiva