BANTUL - Pertanian di Kabupaten Bantul masih kesulitan meningkatkan komoditas kedelai. Di 2024 ini pemenuhannya selalu minus tidak dapat memenuhi kebutuhan seluruhnya. Berbanding terbalik dengan komoditas padi yang stabil.
"Yang masih minus kedelai karena daya tumbuhnya dan harga jualnya belum begitu baik," ujar Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Bantul Joko Waluyo Minggu (1/12/2024).
Selain itu, komoditas cabai juga dirasakan sangat turun harga jualnya. Penurunan tersebut dipengaruhi hukum ekonomi berkaitan demand dan supply.
Sedangkan untuk padi di 2024 ini jumlah produksinya hampir sama dengan 2023 lalu. Bedanya target luas panen di 2024 mencapai 29 ribu hektare. Di sisa 2024 ini Joko berharap produksi padi di Bantul sama seperti 2023 silam yang surplus beras 50 ribu ton.
"Karena asumsi kami jumlah pendudukan 1.070.000 sehingga bisa surplus 50 ribu ton beras," sambungnya.
Sektor pertanian semuamya karena hukum ekonomi kecuali komoditas beras. Di 2025 produksi padi diprediksi meningkat.
Itu karena ada mundur masa tanam di 2024 ini yang akhirnya dimulai 2025. "Semoga 2025 nanti bisa tembus 30 ribu hektare tanam padi," tegasnya.
Sementara itu, seorang petani di Sanden, Suharti mengatakan, masa panen padi yang dilakukannya cukup baik. Selain itu, padi yang dihasilkannya pun cukup baik kondisinya. Namun, memang ada kendala di penjualan.
"Kadang masih rendah nilai jualnya dari petani," ungkapnya. Seharusnya, harganya bisa lebih baik karena padi yang dihasilkannya cukup bagus. (rul)
Editor : Sevtia Eka Novarita