Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sejumlah Kapanewon di Bantul Masih Kekeringan, Kini Harus Bersiaga Hadapi Longsor, Banjir, Pohon Tumbang di Musim Penghujan

Khairul Ma'arif • Sabtu, 2 November 2024 | 14:15 WIB

 

DAMPAK KEKERINGAN: Pengiriman droping air di Jatimulyo, Dlingo untuk 328 jiwa dan 82 KK pada Minggu (8/9/2024).
DAMPAK KEKERINGAN: Pengiriman droping air di Jatimulyo, Dlingo untuk 328 jiwa dan 82 KK pada Minggu (8/9/2024).

BANTUL – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul memperpanjang status siaga kekeringan. Jika sebelumnya hanya sampai 31 Oktober, kini tercatat hingga 30 November. Keputusan itu diambil karena masih ada seribuan KK yang terdampak.

Kepala Bidang Kedaruratan, Logistik, dan Peralatan BPBD Bantul Antoni Hutagaol mengatakan, perpanjangan siaga kekeringan diputuskan karena intensitas hujan belum terlalu tinggi. Kondisi itu mengakibatkan, penyimpanan terhadap air tanah belum mumpuni sehingga masih dilakukan droping air. Menurutnya, sejumlah kapanewon yang memiliki wilayah dataran tinggi masih mengalami kekeringan meskipun sudah turun hujan seperti di Dlingo.

“Butuh hujan dengan intensitas yang terus-menerus untuk wilayah perbukitan agar dapat menyimpan air,” ucapnya Jumat (1/11/2024).

Dia menyebut, Kapanewon Dlingo menjadi wilayah paling terparah mengalami kekeringan. BPBD sudah menyalurkan air sebanyak 251 tangki dengan total 1,2 juta liter air. Pemenuhan itu menyasar 1.121 KK dengan 4.337 jiwa yang membutuhkan.

Selain itu, BPBD Bantul juga mengeluarkan status siaga banjir, longsor, dan angin kencang. Terhirung dari 1 November hingga 31 Desember. Keputusan itu diambil karena mengacu prediksi BMKG, DIJ sudah memasuki musim penghujan. Puncak hujan deras di DIJ diprediksi pada Februari 2025.

Antoni meminta, masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan memperhatikan daerah di sekitarnya. Khususnya yang rentan terhadap longsor, banjir, dan pohon tumbang. “(Biasanya, Red) banjir di Imogiri dan Pundong, longsor di Piyungan dan Dlingo yang perbukitan,” rincinya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Bantul Bambang Purwadi mengklaim, sudah melakukan pemangkasan terhadap pohon besar yang membahayakan. “Titik utamanya di jalan kabupaten dan sebagian kecil di jalan non-kabupaten atas permintaan masyarakat usai dilakukan assessment,” tuturnya.

Eks Kepala Disdukcapil Bantul itu menambahkan, mayoritas pemangkasan pohon dilakukan di Kapanewon Bantul, Sewon, Banguntapan, dan Kasihan.

Panewu Dlingo Marjihidayat mengaku, wilayahnya sangat rentan terhadap longsor dan pohon tumbang saat memasuki musim penghujan. Itu karena seluruh wilayahnya merupakan perbukitan yang ditumbuhi pepohonan tinggi. “Kalau banjir tidak ada di sini,” ucapnya. (rul/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Dlingo #diperpanjang #Terdampak #Musim penghujan #BPBD Bantul #Siaga Kekeringan #Droping Air #BMKG