BANTUL - Sosok Emi Masruroh tak lagi asing bagi warga Kabupaten Bantul. Sebab perempuan yang juga seorang guru ini adalah istri dari Abdul Halim Muslih yang menjabat sebagai bupati Bantul sejak 2021 silam.
Mendampingi suaminya yang bertugas sebagai kepala daerah, Emi mengaku tetap menjadi pengontrol. Agar sang suami tidak terjerumus dalam langkah yang salah atau tidak tepat. Sehingga kebijakan yang dibuat, juga akan berpihak pada rakyat. “Namun, saya hanya sebatas memberikan masukan, pertimbangan, maupun koreksi. Keputusan tetap mutlak di tangan beliau,” ujarnya Jumat (11/10/2024).
Dia tidak pernah meninggalkan Halim sendirian atas segala konsekuensi pilihan yang sudah diputuskannya. Dalam langkah politiknya di 2024, dia juga mendukung sepenuhnya ikhtiar yang dilakoni suaminya.
Dukungan tersebut juga dilakukannya dengan mengambil cuti di luar tanggungan negara. Meskipun itu tidak berarti Emi mendapat izin kampanye oleh negara. Mengingat statusnya sebagai guru yang tidak diperbolehkan terlibat aktif dalam kampanye pilkada.
Sebagai istri bupati, Emi juga memiliki tugas untuk mendampingi dua buah hatinya. “Saya senantiasa mendampingi mereka dalam menjalani pendidikannya di tempat masing-masing,” sebutnya.
Sebelum suaminya cuti mengikuti masa kampanye Pilkada Bantul 2024, Emi menjabat sebagai ketua Dekranasda Bantul dan ketua TP PKK Bantul. Begitu pula dengan ketua Perwosi Bantul, ketua Kwarcab Bantul, Ibu PAUD, Ibu Anak Bantul, Bunda Genre, dan Bunda Literasi.
Dia pun dituntut adaptif untuk mengemban ketugasan yang melekat saat Halim menjabat sebagai bupati. “Dalam sehari saya dapat menjalani berbagai peran, dan dituntut untuk menguasai fokus dari masing-masing kegiatan” tuturnya.
Emi mengaku, semua dijalaninya dan dinikmati dengan penuh rasa bahagia. Karena kesempatan seperti itu adalah pengalaman yang sangat berharga baginya. Menurutnya, dari situ menjadi semakin mengerti banyaknya problematika di Kabupaten Bantul dan bagaimana pemerintah mengatasinya.
Baca Juga: Lima Calon Kepala Daerah Memilih Absen saat Deklarasi dan Penandatanganan Pilkada Damai DIY
“Namun tidak ada perubahan dalam lifestyle saya. Tetap sederhana. Karena bagi saya kesederhanaan adalah kenyamanan,” tegasnya.
Dia mengaku, sempat tidak setuju saat sang suami maju pada Pilkada Bantul 2015. Namun seiring berjalannya waktu, dia sadar bahwa kesuksesan suami tidak bisa lepas dari peran istri. Sejak saat itu, dia mulai memberikan dukungan dengan menggerakkan jejaring perempuan konstituennya. “Artinya, saya diberikan ladang ibadah yang luar biasa menjadi pendamping pemimpin sebuah kabupaten yang pertanggungjawabannya berat. Baik di dunia maupun akhirat,” tandasnya. (rul/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita