BANTUL - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Saras Adyatma membuat terobosan program digitalisasi data. Melalui Saras Adyatma Elektronik Sistem Terpadu (Saestu). Sebab selama ini, masih ditemui data yang tidak sinkron antarunit.
Direktur RSUD Saras Adyatma Tri Wahyuni menjelaskan, implementasi sistem informasi rumah sakit belum optimal. Itu karena banyaknya aplikasi atau sistem informasi yang tidak terintegrasi. Sehingga menjadikan pekerjaan tersegmentif dan data sering tidak sinkron antarunit.
"Sehingga perlu kerja dua kali untuk mencocokkan atau konsolidasi data yang tentunya menjadi lebih lama dan melelahkan," ungkap Yuyun, sapaan akrabnya.
Tidak adanya informasi yang komprehensif, mengakibatkan pengambil kebijakan tidak dapat menganalisa secara cepat. Begitu pula saat akan mengambil keputusan yang harus dilakukan segera. Sehingga hal ini pula yang mempengaruhi kinerja dan kualitas pelayanan.
Keberadaan Saestu, lanjutnya, akan mengintegrasikan antara pendaftaran online dan anjungan pendaftaran mandiri rekam medis elektronik. Termasuk pelayanan rawat jalan atau inap, IGD, kamar operasi, laboratorium farmasi, radiologi, aplikasi biling, kasir elektronik dan klaim BPJS. "Integrasi dengan layanan data dukcapil pada penerbitan akte kelahiran dan kematian," bebernya.
Yuyun menilai, Saestu akan bermanfaat karena pasien dapat terlayani dengan lebih cepat dan professional. Serta tersedianya data primer dan sekunder berkualitas, dapat digunakan dalam pendidikan, penelitian, dan pelatihan, serta publikasi lainnya.
Saestu juga diklaim dapat mempersingkat waktu pelayanan menjadi hanya sekitar lima menit untuk satu pasien. Sedangkan secara ekonomis, Saestu mengirit biaya rekam medis yang jika dikalkulasikan dalam setahun mencapai Rp 100 juta. (rul/eno)