Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Modernisasi Budi Daya Maggot, Dosen AKPRIND Berdayakan Masyarakat Guwosari

Khairul Ma'arif • Sabtu, 21 September 2024 | 04:12 WIB
PEMBERDAYAAN: Universitas AKPRIND saat melakukan pemberdayaan budi daya maggot milik BUMDes Maju Sejahtera lewat hibah mesin di Guwosari, Pajangan, Bantul.
PEMBERDAYAAN: Universitas AKPRIND saat melakukan pemberdayaan budi daya maggot milik BUMDes Maju Sejahtera lewat hibah mesin di Guwosari, Pajangan, Bantul.

 

BANTUL – Universitas AKPRIND Indonesia melakukan pengabdian masyarakat. Lewat pemberdayaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Maju Sejahtera di Guwosari, Pajangan, Bantul berupa budi daya maggot. Dilakukan oleh kalangan dosen Prodi Teknik Mesin dengan Prodi Informatika.

Ketua tim Hadi Saputra menyampaikan, pemberdayaan dilakukan untuk memberikan penguatan melalui aplikasi sains dan teknologi yang berbasis penelitian. Sebab selama ini, BUMDes Maju Sejahtera mengelola maggot masih dengan cara konvensional.

“Kami berdayakan dengan penerapan teknologi waste to energy agar menghasilkan eco-efficiency dan green economy dalam budi daya maggot,” bebernya Jumat (20/9/2024).

Implementasinya, yakni penggunaan mesin teknologi tepat guna (TTG). Mesin penyangrai, pengayak, dan sealer ini akan membantu efisiensi budi daya maggot. Mesin pengayak berfungsi untuk memanen dan memisahkan maggot dari media penangkarannya.

Kemudian mesin penyangrai, berfungsi untuk mengeringkan maggot. Pemanfaatan kedua mesin ini dipercaya dapat meningkatkan eco-efficiency dan green economy dalam budi daya maggot. “Mesin sealer digunakan sebagai pengemasan,” bebernya.

Dengan proses ini, maggot yang telah dipanen akan menjadi produk kering. Sehingga dapat bertahan lebih lama dan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan maggot basah. “Maggot basah harga jualnya berkisar Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu per kilogramnya,” ucapnya.

 

Sedangkan harga maggot kering, bisa mencapai Rp 60 ribu sampai Rp 100 ribu. Selain itu penggunaan mesin tersebut dapat meminimalisasi jumlah tenaga kerja dan waktu yang diperlukan dalam pengelolaan budi daya maggot.

Secara konvensional, dibutuhkan lebih dari dua tenaga kerja untuk memanen maggot. Pun untuk mengeringkan, menyesuaikan cuaca yang ada. Sedangkan dengan mesin ini, hanya memerlukan satu orang untuk memanen. “Waktu pengeringan 10 kilogram maggot sekitar satu jam,” ucapnya.

Sementara Direktur Penelitian & Pengabdian pada Masyarakat Universitas AKPRIND Sudarsono menambahkan, bahan bakar yang digunakan untuk mesin penyangrai berupa sampah. Dikatakannya, pengabdian masyarakat ini juga melibatkan sejumlah mahasiswa dari masing-masing Prodi Teknik Mesin dan Informatika. Keterlibatan itu tidak sekadar formalitas saja tetapi dimasukkan sebagai mata kuliah lapangan.

Direktur BUMDes Maju Sejahtera Guwosari Hendri mengaku, pemberdayaan ini efektif dan membuat nilai jual maggot naik. Menurutnya, maggot yang dihasilkan pun tidak berbeda. “Hemat tenaga kerja sekarang hanya satu orang,” ungkapnya. (rul/eno)

 

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Guwosari #BUMDes #pajangan #Akprind Jogjakarta #budi daya maggot