BANTUL – Kabupaten Bantul memiliki 75 kalurahan yang tersebar di 17 kapanewon. Dari jumlah tersebut lurah dari kalangan pria masih sangat mendominasi bahkan jumlahnya dengan lurah perempuan sangat jomplang. Dari 75 lurah yang menjabat, kalurahan dipimpin kaum Hawa jumlahnya tidak sampai 10 orang.
Sedangkan sisanya sepenuhnya merupakan kalangan pria. Jumlah tersebut sesuai dengan pendataan yang dilakukan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (DPMK) Bantul. Kepala DPMK Bantul Sri Nuryanti mengatakan, daerah yang dipimpin lurah perempuan terdiri dari Kalurahan Girirejo, Wirokerten, Kebonagung, Sriharjo, Sabdodadi, dan Trirenggo. Diakuinya memang jumlahnya masih sangat minim.“Tetapi perangkat kalurahan 40 persen perempuan,” ujarnya, Kamis (19/9/2024).
Jumlah tersebut dari sekitar 400-500 perangkat kalurahan yang ada di Bantul. Dikatakannya, jumlah lurah perempuan yang masih minim terus didorong agar bertambah.Partisipasinya pun tetap dimunculkan khususnya ketika dalam pengambilan keputusan dalam forum kalurahan. Keterwakilan perempuan di Bantul belum menjadi perhatian serius karena tidak ada penambahan jumlah signifikan dari beberapa tahun terakhir. Kondisi serupa juga terjadi di kalangan dukuh yang jumlahnya tidak sampai 100 orang perempuan dari 900an padukuhan yang ada di Bantul.
Baca Juga: Sebanyak 327 Murid PAUD di Bantul Terdeteksi ABK: Kategori Tinggi, Namun Minim Guru Pendamping
Sementara itu salah satu sosok perempuan yang memimpin kalurahan, Rakhmawati Wijayaningrum menyampaikan, pada dasarnya baik pria maupun perempuan sama saja. Prosesnya dalam keterpilihan pun sama tidak ada diskriminasi. Perempuan yang menjabat sebagai Lurah Wirokerten, Banguntapan itu mengungkapkan, setiap kaum Hawa yang ingin berkontestasi untuk jabatan lurah harus dapat mempersiapkan terlebih dahulu.
Di antaranya mempersiapkan diri dengan mengikuti berbagai kegiatan kelompok kemasyarakatan yang ada di kalurahan. Selain itu, harus ada komitmen bagi seorang perempuan yang ingin terjun ke tengah-tengah masyarakat apalagi sebagai seorang lurah. Diakuinya dahulu pun ikut berbagai kegiatan kelompok masyarakat di lingkungannya mulai dari bidang kesehatan, pertanian, dan ekonomi.“Yang penting bisa memanage karena harus berkolaborasi,” bebernya.
Rakhmawati sudah menjabat sebagai Lurah Wirokerten selama 12 tahun yang artinya mendapat kepercayaan publik yang cukup panjang. Dia mendorong kalangan perempuan untuk berani untuk maju menjadi lurah tentunya dengan catatan harus dapat mengukur kemampuan dalam hal koordinasi teman-teman.
Jangan semata-mata karena memiliki uang lebih lantas maju menjadi lurah. Menurutnya, harus mampu secara berpikir dan memiliki cara pandang dari potensi yang dimiliki harus berani maju. “Saya selalu memotivasi perempuan bahwa bisa menjadi seseorang tidak hanya lurah tetapi bupati saja ada yang perempuan,” tandasnya. (rul).
Editor : Din Miftahudin