BANTUL – Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia mengeluarkan data impor ikan di Indonesia. Data itu menimbulkan polemik. Sebab, lautan Indonesia yang luas tidak sepatutnya ada impor. Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Bantul menjamin tak ada ikan impor di wilayahnya. Kebutuhan ikan di Bantul didatangkan dari luar daerah.
Kepala Bidang Perikanan Tangkap dan Budidaya DKP Bantul Kristanto Kurniawan mengatakan, kebutuhan ikan di Bantul dipasok dari sejumlah daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Seperti Tulungagung, Kediri, dan Boyolali. Tidak diketahui jumlah pastinya ikan dari luar Bantul. Ditambah, jumlah penjualan yang fluktuatif tidak ajeg.
Kepala DKP Bantul Istriyani menambahkan, ikan yang diimpor Indonesia dari sejumlah negara sebagian besar hasil tangkapan di laut yang jenisnya tidak tersedia di perairan Indonesia. Di antaranya ikan salmon, makarel dan lainnya yang berasal dari daerah subtropis atau dingin seperti perairan Eropa.
Perwakilan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Mina Bahari Bantul Darmanta membeberkan, bagi nelayan yang terpenting dapat melaut dengan selamat dan memperoleh tangkapan yang banyak sudah bagus. Ditambah harga jualnya yang stabil ataupun malah menguntungkan dengan minat pembeli yang tinggi. “Ikan layur dulu pernah nyampai Rp 28 ribu per kilogram, sekarang hanya Rp 23 ribu,” ungkapnya, Kamis (19/9).
Darmanta mengaku, belakangan ini memang tangkapan nelayan yang tergabung di TPI Mina Bahari sangat tidak stabil. Bahkan, bisa saja dalam satu hari hasil tangkapan nelayan menjadi nihil. “Jumlahnya tidak tentu tergantung keberuntungan,” tuturnya.
Sampai sekarang di TPI Mina Bahari terdapat 82 nelayan yang terdiri dari 44 lokal dan 38 andon atau pendatang dari sejumlah daerah. Mayoritas nelayan andon dari Cilacap, Jawa Tengah. (rul/din).
Editor : Din Miftahudin