RADAR JOGJA - Keracunan massal menimpa warga Kabupaten Bantul di hari yang sama dengan dua lokasi terpisah. Penyebabnya berbeda-beda karena terjadi dalam dua kegiatan berbeda. Pertama di Kalurahan Patalan dalam agenda penyerahan SK Desa Rintisan Budaya. Kedua di SD swasta di Kalurahan Bantul yang dialami siswa dari kelas 1-6.
Di SD swasta sendiri mencapai 64 siswa yang mengalami keracunan usai makan siang yang disediakan pihak sekolah. Sedangkan di Kalurahan Patalan, informasi awal ada 25 warga yang kercunan tetapi yang mendapat gejala mencapai ratusan. "Hingga hari ini yang bergejala sampai 160 orang," ujar Wakil Bupati Bantul Joko Purnomo kemarin (12/9).
Angka ini dialami oleh warga yang ikut dalam agenda di Kalurahan Patalan. Sejumlah warga ada yang harus mendapat perawatan intensif di RSUD Panembahan Senopati Bantul. Dalam kesempatan ini, Joko juga turut membesuk warganya yang opname di rumah sakit karena keracunan makananan itu.
Baca Juga: Sebulan Pascadilantik AKD DPRD Kebumen Belum Terbentuk, gegara Pilkada?
Menurut Joko, untuk berkaitan penelusuran akan diserahkan ke pihak kepolisian. Sekarang yang terpenting warga dapat ditangani dan ditolong perawatannya, sehingga dapat kembali pulih. Dari dua kejadian itu, dampak yang dialami hampir sama yakni diare, sakit perut, mual, pusing, dan muntah-muntah.
Sementara itu, Wakil Direktur Pelayanan dan Penunjang RSUD Panembahan Senopati Fauzan menambahkan, warga yang dirawat di instansinya dalam kondisi baik. Tidak semua warga yang terdampak keracunan massal langsung datang.
Dikatakan, sekarang belum dapat diputuskan penyebabnya karena keracunan. Itu lantaran masih perlu dilakukan pengecekan terhadap hasil laboratorium sampel makanan. "Kami siapkan tenaga medis, rata-rata gangguan pencernaan yang dialami," tuturnya. Nantinya akan dilakukan pengecekan secara berkala hingga pasien bisa diizinkan pulang.
Tidak hanya Wabup Joko, Bupati Bantul Abdul Halim Muslih juga turut menjenguk warganya yang diduga mengalami keracunan. Menurutnya, ada sekitar lima orang yang mendapat perawatan intensif di RSUD Panembahan Senopati.
Politikus PKB ini juga hadir dalam agenda di Kalurahan Patalan itu dan turut memakan nasi boks yang disediakan panitia, sama seperti yang dialami dampak keracunan. "Saya makan baik-baik saja itu sampai sekarang. Sepertinya berbeda itu yang masak," ungkapnya.
Baca Juga: Festival Garis Imajiner Suguhkan Potensi Budaya, Wujudkan Sumbu Filosofis di Dunia Nyata
Menurutnya, warganya yang dirawat di RSUD tidak mencium bau basi dari makanan yang dikonsumsi. Rasanya juga masih enak-enak saja. Namun untuk kepastiannya terkait peristiwa ini, harus dilakukan uji sampel di laboratorium.
Menurut Halim, ada 300 nasi boks yang disediakan tetapi memang tidak semuanya terdampak keracunan. Sementara ini belum diketahui faktor penyebabnya, apakah karena makanan katering atau hal lainnya. Ia pun tidak bisa berandai-andai akan melakukan kebijakan apa ke depan karena belum diketahui penyebab pastinya.
Dia mengungkapkan, baik di Patalan dan di SD swasta tetap akan dilakukan uji laboratorium agar selesai semua persoalannya. "Apalagi ke depan ada program makan siang gratis untuk anak sekolah ini. Kalau tidak ada quality control yang tepat, sehingga harus diantisipasi," tuturnya.
Untuk itu nantinya makan siang gratis akan menjadi tantangan tersendiri untuk menyiapkan agar kondisinya sehat dan bergizi. Untuk pengobatan warga yang diduga keracunan ini, akan ditanggung pemerintah dengan berbagai upaya.
Halim menyebut seperti melalui BPJS Kesehatan, Jamkesda, dan Jamkesus sehingga pasien yang dirawat tidak perlu memikirkan hal itu. "Ini bukan kejadian luar biasa yang menjangkau banyak orang," tegasnya. (rul/laz)
Editor : Heru Pratomo