RADAR JOGJA – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kembali mengingatkan adanya bahaya dari gempa megathrust yang mengintai sepanjang kawasan pesisir Selatan Pulau Jawa. Termasuk Kabupaten Bantul karena letak sebagian wilayahnya tepat berada di pesisir selatan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul sudah menyadari ancaman tersebut. Kepala Pelaksana BPBD Bantul Agus Yuli Herwanta menyampaikan, megathrust bukan berarti akan terjadi dalam waktu dekat. Itu karena bencana alam seperti itu tidak dapat diprediksi secara pasti tepatnya kapan dan besaran gempanya berapa.
Menurutnya, instansi yang dipimpinnya sudah menyiapkan bahaya bencana gempa sejak beberapa tahun lalu. Tidak dimulai baru-baru ini ketika peringatan dari BMKG mencuat ke permukaan. “Kami mengadakan simulasi ada yang gempa bumi, tsunami serta banjir dan longsor,” katanya, Kamis (22/8).
Sejumlah wilayah di pesisir selatan seperti Tirtohargo, Kretek dan Poncosari, Srandakan diadakan kalurahan ready tsunami. Upaya itu dilakukan sebagai mitigasi terhadap bencana tsunami yang mengintai. Persiapan semacam itu sudah dilakukan sejak 2023 lalu.
Pada 2024 ini BPBD Bantul sedang mengadakan kajian resiko bencana. Lantas itu ditindaklanjuti dengan penyusunan dokumen rencana penanggulangan bencana. “Kami juga sudah memperbaiki tempat evakuasi sementara di Kuwaru,” imbuhnya.
Agus Yulis menegaskan, yang terpenting untuk kesiapsiagaan masyarakat. Menurutnya ini bukan untuk bertujuan menakut-nakuti. Apalagi di Bantul ada potensi gempa dari sesar Opak yang dapat menjadi pemicu di darat. Berbeda dengan megathrust yang gempanya pemicunya di lautan. Menurutnya ancaman gempa megathrust dengan dari sesar opak tidak memiliki keterkaitan korelasi. “Tetapi bisa saja saling memicu,” ujarnya.
Kepala Bidang Kedaruratan, Logistik, dan Peralatan BPBD Bantul Antoni Hutagaol menambahkan, megathrust itu sudah lama disampaikan BMKG. Sekarang kembali mencuat lagi menurutnya agar harus biasa sehingga praktik mitigasinya dapat dilakukan dengan baik. Upaya meminimalkan dampak korban harus dilakukan karena gempa dapat mengintai kapan saja.“Intinya satu jangan panik,” tuturnya.
Menurutnya itu karena melihat banyak sekali dampak bencana alam gempa karena ada kepanikan. Padahal ketika dilakukan simulasi tidak ada kepanikan.Dia tidak menampik, ancaman gempa megathrust di Bantul ini akan menimbulkan tsunami ketika magnitude gempanya minimal 7,5. Ketika tumbukan patahannya besar sehingga memungkinkan dapat menggerakan air laut. (rul/din).