RADAR JOGJA - Polres Bantul mencatat, ada 12 kasus kecelakaan (laka) air yang terjadi selama 2024. Jumlah tersebut merupakan peristiwa yang terjadi di sungai maupun laut di Bumi Projotamansari.
Kasi Humas Polres Bantul AKP I Nengah Jeffry menjelaskan, seluruh kasus ini mengakibatkan enam orang meninggal dunia. Peristiwa terakhir terjadi di Sungai Cawang Baros, Rabu (10/7) sore. Kejadian itu menyebabkan Muhammad Sangidun, 33, warga Bogoran, Bantul meregang nyawa.
Jeffry mengungkapkan, sejumlah kejadian laka air di Bantul yang memakan korban jiwa harus menjadi pengingat bagi semua masyarakat. Ancaman bahaya selalu mengintai ketika beraktivitas di kawasan perairan. “Bagi pemancing di sungai, baiknya tidak berenang atau turun ke sungai,” pesan Jeffry Jumat (12/7).
Menurutnya, pemancing harus mengetahui lokasi yang dijadikannya tempat memancing. Apalagi ketika tidak bisa berenang, kehati-hatian harus ditingkatkan. Selain itu, dia pun mengimbau agar para wisatawan yang berkunjung ke destinasi wisata pantai tidak mandi di laut.
Hal tersebut dilakukan agar menghindarkan wisatawan dari kecelakaan laut. Terlebih kawasan pantai di Kabupaten Bantul seperti Parangtritis, Parangkusumo, Samas, Goa Cemara, Kuwaru, dan Baru, menyimpan potensi ancaman berupa titik palung.
Apabila tak bisa berenang, maka wisatawan akan tergulung arus dalam. “Paling berbahaya kalau airnya tenang. Arus balik bawah sangat deras, jadi memang dilarang untuk mandi di laut,” tegasnya.
Sementara itu, Koordinator SAR Satlinmas Rescue Wilayah Operasi III Pantai Parangtritis Arief Nugroho menambahkan, selama hampir tujuh bulan ini, sudah terjadi tujuh laka air di pantai. Terbaru, adalah lima wisatawan terseret ombak pada Rabu (10/7). Menyebabkan dua di antaranya meninggal dunia.
Dari tujuh kejadian itu timnya juga dapat menyelematkan, 15 orang yang terseret arus. “Maret dan Juni Alhamdulilah tidak ada kasus wisatawan terseret ombak di kawasan Parangtritis," bebernya. (rul/eno)