RADAR JOGJA – Dinas Pariwisata (Dinpar) Bantul telah menerapkan tiket elektronik (e-ticket) retribusi ke seluruh destinasi wisata yang dikelola Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul. Meski begitu, masih banyak wisatawan yang lebih memilih membayar retribusi secara manual.
Kepala Dinpar Bantul Saryadi mengatakan, persentase pengguna pembayaran digital hanya berkisar 3,5 persen dari total pengunjung per bulan. Hal itu disebabkan karena sinyal internet di beberapa destinasi wisata masih lemah. Sehingga, ketika wisatawan akan membayar secara digital, seringkali aplikasi yang akan digunakan tidak bisa diakses.
Terlebih di beberapa loket tempat pemungutan retribusi (TPR), terutama di pantai kawasan barat. Ada keterbatasan jaringan yang mempengaruhi sinyal ponsel. Karena keterbatasan jaringan, proses dalam bertransaksi secara digital lewat ponsel menjadi agak lama. “Itu yang membuat lebih cepat pakai pembayaran manual, tinggal menyobek karcis,” sebutnya Jumat (5/7).
Dia mengungkapkan, sebagian besar wisatawan yang membayar secara digital merupakan generasi muda. Sebab pengunjung yang berusia muda dinilai sudah familiar dengan ponsel pintar. “Masih lebih dominan yang (membayar, Red) manual,” tambahnya.
Saryadi menambahkan, Pemkab Bantul sendiri belum merancang kebijakan mengenai pembelian tiket retribusi secara daring. Namun dengan perkembangan digitalisasi yang ada, tidak menutup kemungkinan pembelian tiket secara daring dapat diterapkan di kemudian hari.
Selama ini, Pemkab Bantul baru bekerja sama dengan Dinpar DIY lewat aplikasi Visiting Jogja. Pemkab Bantul juga belum memiliki aplikasi untuk pembelian tiket retribusi yang dikelola sendiri.
"Kami belum bisa melayani tiket online karena belum menyiapkan sistem. Ke depan bisa dikembangkan ticketing online, dari tunai ke nontunai," ucap Saryadi.
Dia menjelaskan, pembayaran digital dilakukan untuk mengoptimalkan rekapitulasi capaian pendapatan asli daerah (PAD) sektor pariwisata Bantul. Hal itu karena PAD yang diterima Pemkab Bantul akan direkap secara real time.
Apabila pembayaran dengan skema digital, akan meningkatkan akuntabilitas dalam pembayaran retribusi tersebut. "Karena kalau cashless jelas uang masuk ke rekening Pemkab. Jadi tidak ada petugas TPR yang terima uang," kata Saryadi.
Sementara itu, realisasi PAD dari sektor pariwisata di Bantul selama 2024 hingga akhir Juni mencapai Rp 14,5 miliar. Selama periode Januari-Juni, objek wisata di Bantul telah dikunjungi sebanyak 1.260.079 orang.
Kepala Seksi Promosi dan Informasi Dinpar Bantul Markus Purnomo Adi mengatakan, perolehan PAD tersebut dihimpun dari semua destinasi wisata yang diberlakukan retribusi tiket masuk. Yaitu kawasan Pantai Parangtritis, kawasan pantai di Bantul wilayah barat, serta wisata alam Gua Selarong dan Goa Cerme. "Realisasi baru 29,69 persen dari target pendapatan Rp 49 miliar," katanya.
Menurut Ipung, sapaannya, kawasan wisata pantai Parangtritis masih menjadi tujuan utama bagi wisatawan. Baik lokal maupun luar daerah yang berkunjung ke Bantul dan sekitarnya. “Karena di sana ada Gumuk Pasir, Pantai Depok juga masih jadi tujuan utama,” jelasnya. (tyo/eno)