RADAR JOGJA - Sejak 1976, Gito Siswoyo bergelut sebagai perajin gamelan. Hanya bermodalkan dari mulut ke mulut, karyanya terus diminati. Tidak hanya untuk wilayah DIY, pemesannya kini datang dari luar kota.
Sejumlah alat masih tergeletak di berbagai sudut rumah Gito. Mulai dari palu, kayu, dan gerinda. Perkakas pendukung ini yang rutin digunakannya untuk membuat gamelan.
Pria 72 tahun itu menghabiskan lebih dari separo hidupnya sebagai perajin gamelan. Awalnya dia hanya ikut orang. Sampai akhirnya memiliki usaha sendiri bernama Gombloh Gamelan sejak 1983 silam. “Dari kecil yang saya tekunkan. Bagaimana pun dipertahankan,” katanya kemarin (28/6).
Baca Juga: Belum Try Out tapi Sudah Try In, Hapkido DIY Optimistis Sabet Tiga Emas di PON 2024
Usahanya membuahkan hasil. Konsumennya pun datang tak hanya dari DIJ. Seperti dari Muara Enim, Banjarmasin, pernah memesan gamelan buatannya. Padahal dia tidak pernah mengiklankan usahanya. Dikenalnya Gito hanya bermodalkan dari mulut ke mulut.
Pembuatan satu set gamelan dari perunggu, memakan waktu tiga bulan. Dengan harga paling murah Rp 350 juta, dan Rp 700 juta paling mahal.
Namun, konsumen juga bisa membeli satuan. Seperti satu gong besar yang dihargai Rp 25 juta.
Sedangkan untuk yang besi, harga satu set bisa lebih murah. Dari Rp 35 juta hingga Rp 75 juta. Sementara untuk kuningan, dibanderol dari Rp 175 juta sampai Rp 200 juta. “Keuntungannya dari menjual gamelan biasanya Rp 15 juta bersih,” tuturnya.
Baca Juga: Terancam Megatrust, Jembatan Linggan Rusak sejak Januari
Setiap tahunnya, Gito mampu membuat 70 set gamelan besi. Selama proses pengerjaan, Gito dibantu 10 orang karyawan. Namun untuk gamelan perunggu, Gito biasa meminta bantuan dari perajin lain. “Biasanya dari Boyolali sama beberapa daerah sekitar DIJ,” tuturnya.
Meski demikian, suara gamelan yang dihasilkan dari perunggu, kuningan, dan besi sama saja. Tidak ada perbedaan. (eno)
Editor : Heru Pratomo