RADAR JOGJA - Tiga jemaah haji asal DIY dilaporkan wafat di Tanah Suci dalam tiga hari terakhir. Rinciannya, dua jemaah asal Bantul dan satu jemaah asal Kulon Progo.
Untuk dua jemaah haji asal Bantul, kabar duka itu datang dari Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bantul. Dua jemaah wafat di Makkah, Arab Saudi. Sempat dibawa ke rumah sakit setempat, tetapi Allah berkendak lain.
Pelaksana Harian Kepala Kemenag Bantul Aminuddin saat dikonfirmasi membenarkan hal ini. Menurutnya, kedua jemaah itu masing-masing satu perempuan dan satu laki-laki. "Jemaah haji yang wafat dari Bantul dua orang. Meninggal dunia saat di RS," ujarnya Selasa (18/6).
Jemaah pria yang meninggal dunia itu atas nama Ngatijo Wongso Sentono, 86, dan yang perempuan Sumartilah Purwo Pardjono, 75. Keduanya warga Bantul dan waktu meninggalnya berbeda. Ngatijo yang warga Kretek meninggal dunia Minggu (16/6), sementara Sumartilah warga Pundong meninggal pada Jumat (14/6).
Ngatijo meninggal dunia di RS An Nur Makkah. Sedangkan Sumartilah meninggal dunia di RS King Faisal Makkah. Aminuddin belum mendapat informasi lebih lanjut apakah keduanya sudah dimakamkan atau belum. "Yang pasti keduanya dimakamkan di Makkah," tambahnya.
Menurutnya, jemaah haji yang meninggal dunia di Arab Saudi bisa bisa saja dimakamkan di Indonesia. Namun karena prosedurnya yang panjang serta biaya pengurusannya yang tidak sedikit, sehingga kebanyakan dimakamkan di Arab Saudi.
Direncanakan Kantor Kemenag Bantul akan mendatangi kedua rumah duka. Hal itu dilakukan sebagai upaya rasa turut berduka cita terhadap keluarga yang ditinggalkan. Rencananya mereka akan ke rumah duka hari Rabu ini.
Sementara satu jemaah asal Kulon Progo yang meninggal dunia di Arab Saudi adalah Rasid Kromo Karijo, 85. Rasid menghadap Sang Khaliq saat melakukan prosesi ibadah haji di Mina, sekitar pukul 00.30, Senin (17/6).
Meninggalnya jemaah haji ini dikonfirmasi oleh Kepala Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Kulon Progo Wahib Jamil. "Jemaah haji asal Pleret Panjatan meninggal dunia di Mina saat prosesi ibadah haji," ucap Wahib saat dikonfirmasi wartawan (17/6).
Ia menjelaskan, jenazah Rasid akan dikebumikan di Arab Saudi. Pengurusan jenazah dilakukan oleh pihak maktab, sebagai kantor yang memiliki kewenangan memberikan layanan bagi jemaah haji yang meninggal dunia.
Kabar meninggalnya Rasid telah diterima keluarganya di Kalurahan Pleret, Kapanewon Panjatan. Pihak Kemenag Kulon Progo telah menjalin komunikasi dengan pihak keluarga.
Pihak pihak juga keluarga telah merelakan kepergian Rasid dan menyerahkan urusan penguburan dilakukan di Arab Saudi. "Almarhum meninggal karena sakit gula dan ada riwayat sakit jantung," ucap Wahib.
Ia menjelaskan, Rasid merupakan jamaah haji kloter 46 SOC yang telah masuk pemantauan tim kesehatan sejak menginjakkan kaki di Tanah Suci. Lantaran riwayat kesehatan Rasid yang perlu terus diawasi dan memiliki kondisi kurang prima.
Sebelum meninggal dunia, Rasid menjalani proses ibadah haji dengan semangat. Ia mampu melaksanakan rukun haji. Namun karena Rasid masuk dalam kategori murur, saat mabit di Musdalifah ia tak diturunkan di sana. Melainkan hanya melewati kawasan itu dengan tetap melantunkan doa-doa.
Kondisi Rasid mulai memburuk saat di Mina. Tim kesehatan haji berencana merujuk ke fasilitas kesehatan. Namun saat dibawa dalam proses rujuk, Rasid sudah meninggal dunia. (rul/gas/laz)