Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Warga Mancingan Gelar Upacara Labuhan di Parangkusumo, Wujud Syukur Panen Memuaskan Sekaligus untuk Tarik Wisatawan

Khairul Ma'arif • Rabu, 12 Juni 2024 | 02:02 WIB

 

Warga mengikuti kirab saat prosesi labuhan Pisungsung Jaladri dari Pantai Parangtritis menuju Pantai Parangkusumo, Bantul, Selasa (11/6).
Warga mengikuti kirab saat prosesi labuhan Pisungsung Jaladri dari Pantai Parangtritis menuju Pantai Parangkusumo, Bantul, Selasa (11/6).

 

RADAR JOGJA - Padukuhan Mancingan, Kretek, kembali menggelar upacara adat Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri, Selasa (11/6). Kegiatan ini sekaligus merti dusun yang diawali doa bersama di Joglo Parangtritis. Lalu dilanjutkan kirab membawa uba rampe menuju Cepuri Parangkusumo.


Hampir seluruh warga Mancingan turut serta dalam kirab dengan mengenakan berbagai macam busana. Uba rampe yang diusung dengan tandu juga beraneka ragam. Titik akhir kirab adalah Parangkusumo yang menjadi tempat dilabuhnya berbagai macam uborampe.

Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja
Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja


Dukuh Mancingan Handri Sarwoko mengatakan, upacara adat Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri merupakan agenda tahunan. Pelaksanaannya dilangsungkan setelah panen raya, sehingga waktu pelaksanaannya tidak selalu tepat. Biasanya antara Mei, Juni atau Juli yang ada pasaran wage seusai panen raya.


"Kami bersyukur ini kan adat istiadat nenek moyang usai panen raya. Uba rampe dilabuh di Parangkusumo," katanya di sela acara. Menurutnya, wujud syukur usai panen raya ini mengalami pergeseran. Dulu dengan menggelar wayangan, kini dikemas dengan merti dusun dan dinamai upacara adat Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri.


Handri berharap dari upacara adat bersyukur kepada Allah SWT karena warga Mancingan diberi hasil panen memuaskan. Selain itu, mayoritas warga Mancingan yang menjual jasa dan keindahan Panati Parangtritis, upacara adat ini juga sebagai upaya menarik pengunjung atau wisatawan.

Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja
Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja


Dia menegaskan, upacara adat yang dilakukan bukan musyrik, tetapi nguri-uri budaya. Menurutnya, seluruh warga Mancingan turut dalam kirab hingga mencapai sekitar 2.500 orang dari delapan RT. "Biayanya dari iuran warga 85 persen serta bantuan dinas kebudayaan dan Kalurahan Parangtritis," ucapnya.


Sementara itu, Bupati Abdul Halim Muslih menambahkan, upacara adat Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri merupakan perlambang rasa syukur masyarakat terhadap Tuhan yang Maha Esa. Menurutnya, Parangtritis merupakan kalurahan yang memiliki pertumbuhan ekonomi tinggi karena memiliki daya pikat pariwisata.


Di sini ada pantai dan gumuk pasir, sehingga masyarakatnya dapat hidup dari jasa pariwisata. Ia menegaskan, dengan adanya upacara adat yang digelar ini dapat berdampak pada pariwisata setempat. "Oh iya jelas, lihat saja di Parangtritis tingkat kesejahteraannya tinggi,” tandasnya.

Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja
Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja


Kepala Dinas Pariwisata Saryadi menyampaikan, pengembangan pariwisata di Bantul sekarang sudah diarahkan ke wisata budaya.

Artinya bagaimana event-event budaya tidak hanya semata-mata untuk pelestarian, tetapi memiliki potensi daya tarik wisata. Diharapkan ada kolaborasi, sinergi antara budaya dan pariwisata sehingga dapat menambah daya tarik wisata. (rul/laz)

Editor : Satria Pradika
#parangtritis #joglo #labuhan #upacara adat #panen #Bantul #Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri #parangkusumo #Wisatawan