Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dinpar Bantul Gelar Sajian Mie Lethek Terbanyak Pertama di Dunia Sebagai Usaha Mengenalkan Makanan Khas Projotamansari

Khairul Ma'arif • Rabu, 22 Mei 2024 | 22:27 WIB
Pecahkan Rekor: Dinpar Bantul akan Mencatatkan rekor MURI penyajian mie lethek terbanyak di dunia.
Pecahkan Rekor: Dinpar Bantul akan Mencatatkan rekor MURI penyajian mie lethek terbanyak di dunia.

BANTUL – Demi menggaet kunjungan wisatawan dan memperkenalkan masakan khas, Dinas Pariwisata (Dinpar) Bantul menggelar Festival Kuliner Mataraman (FKM) 2024.

Agendanya dilangsungkan di Pantai Baru pada Sabtu (25/5/2024) dengan disertai adanya pemecahan rekor yang dicatat

Museum Rekor Indonesia (MURI) dalam hal sajian Mie Lethek terbesar di dunia.

Disediakan 5 ribu porsi mie lethek yang akan dimakan gratis oleh para pengunjung yang mendapatkan voucher.

Tidak ada klasifikasi pengunjung semuanya bisa mendapatkan voucher makan mie lethek gratis selama persediaannya masih ada.

Voucher tersebut akan dibagikan dari panitia kepada pengunjung di pintu masuk menjelang pemecahan rekor Muri dilakukan.

Warga yang ingin ambil bagian dalam pemecahan rekor harus datang lebih cepat sehingga mendapatkan vouchernya.

Sekretaris Dinpar Bantul Budi Sardjono mengatakan, mie lethek merupakan salah satu makanan khas Bantul yang sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb).

Penetapan tersebut didasarkan dari keputusan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi yang diikuti adanya penyerahan sertifikat.

“Demi mengenalkan makanan khas Bantul ke mata dunia, Dinpar mencatatkan rekor sajian mie lethek terbanyak di dunia oleh MURI dalam kegiatan FKM 2024,” ujarnya di Kantor Dinpar Bantul, Rabu (22/5/2024).

Dia menjelaskan, secara harfiah mie lethek berarti kotor yang penamaannya merujuk pada penampilannya tidak secerah warna mie lainnya.

Warna mie lethek kecoklatan karena dibuat dari tepung tapioka dan gaplek (singkong kering).

Pengolahannya masih dilakukan secara tradisional untuk menjadi mie lethek.

Itu karena dalam proses penggilingannya masih menggunakan sapi sebagai tenaga penggerak gilingannya.

Mie lethek tidak memiliki makna khusus dan mendalam, penamaannya demikian karena warnanya yang bersifat keabu-abuan.

Kondisi itu dalam terminologi orang Jawa diartikan lethek atau kotor.

Sementara itu, Subkoordinator Kelompok Substansi Promosi Kepariwisataan Dinpar Bantul Markus Purnomo Adi menambahkan, pembuatan mie lethek untuk pemecahan rekor dunia dilakukan secara swadaya.

“Dikerjakan oleh tujuh kelompok wanita tani yang masing-masing akan membuat 750 pincuk mie lethek,” imbuhnya.

Kegiatan FKM merupakan agenda tahunan yang pelaksanannya menggunakan dana keistimewaan.

Selain itu, Dinpar Bantul juga akan menggelar Keroncong Pesisiran Mataraman (KPM) di Desa Wisata Patihan, Pantai Goa Cemara pada Sabtu (8/5/2024).

Karakteristik tempat penyelanggaraan KPM sangat khas memiliki berupa pohon cemara dan adanya kawasan konservasi penyu.

Tidak hanya mendendangkan keroncong, KPM juga akan mengajak para pengunjungnya untuk terlibat dalam proses pelepasan anak penyu yang baru menetas (tukik).

Baca Juga: Belum Tahu Prospek Pekerjaan Jurusan Ilmu Komunikasi? Kamu Wajib Simak!

KPM menghadirkan Fanny Soegiarta sebagai guest star merupakan langkah kecil mewujudkan panggung ramah perempuan lewat kurasi yang dilakukan.

Mengiringinya, hadir pula Keroncong Gendhis, Keroncong SMM dan Keroncong ISI.

Pantai sebagai ruang komunal disulap jadi lokasi workshop padu-padan wastra, lapangan bermain dolanan anak dan jenama lokal. (rul)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#mi lethek #mie lethek #Bantul #rekor muri