RADAR JOGJA - Penutupan permanen TPST Piyungan per 1 Mei, membuat Pemkab Bantul mengambil langkah untuk pengelolaan sampah di wilayahnya. Namun sementara waktu, pemerintah di Bumi Projotamansari ini hanya mengandalkan tempat pembuangan sampah sementara (TPSS) Wonoroto, Gadingsari. Sembari menunggu tiga TPST yang masih proses pembangunan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bantul Bambang Purwadi menjelaskan, TPSS Wonoroto mulai beroperasi 1 Mei. Nantinya, TPSS ini akan dimaksimalkan hingga empat bulan ke depan.
“Memang tujuannya itu menjadi kanal sementara waktu kami karena harus ada menampung sampah yang gate-nya di angka 90-an ton,” bebernya kemarin (3/5).
Sementara untuk TPST Bawuran, saat ini masih proses dalam pengerjaan fisik infrastruktur. Ditargetkan mulai beroperasi akhir Mei.
Sedangkan TPST Dingkikan, diperkirakan Juni bisa difungsikan. Kemudian TPST Modalan, diupayakan beroperasi antara September atau Oktober.
Meski telah memiliki tempat pembuangan sampah, pemkab Bantul terus berupaya untuk mendorong masyarakat membuat jugangan. Hal ini pun dimaksudkan agar sampah bisa dilakukan pemilahan dan mengurangi volume yang di buang ke TPSS maupun TPST. “Mengurangi dulu produksi sampah, saya kira ini yang bisa juga dilakukan,” lontarnya.
Sementara itu, Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menambahkan, saat ini wilayahnya memiliki sekitar 16 TPST milik kalurahan. Pembuangan sampah di TPST tersebut turut dimaksimalkan, seperti halnya di TPST Panggungharjo dan Guwosari. Sedangkan untuk TPSS Gadingsari, dengan teknik lawas sanitary landfill.
“Sebetulnya kalau sampah Bantul kami kelola, cukup. Tetapi di luar Bantul harus dikelola di Bantul, menjadi kurang (kuota pembuangan, Red),” keluhnya.
Dia mencontohkan misalnya saja TPST Panggungharjo yang juga mengelola sampah dari Kota Jogja. Itu lantaran tidak ada cara untuk Kota Jogja selain memanfaatkan potensi pengelolaan sampah yang ada di Bantul. (rul/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita