BANTUL – Rata-rata lama menginap atau length of stay wisatawan di Kabupaten Bantul pada libur Lebaran 2024 masih rendah.
Begitu pula dengan pergerakan wisatawan yang lebih rendah ketimbang masa libur Lebaran 2023 lalu.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bantul Yohanes Hendra mengatakan, okupansi hotel di Bantul pada masa libur Lebaran 2024 tidak merata.
Ada beberapa hotel yang okupansinya cukup bagus. Tergantung dari jumlah kamar yang disediakan. Hanya saja average yang terjadi di luar prediksi.
“Tadinya kami berharap okupansi bisa mencapai 85-90 persen, tetapi kelihatannya tidak sampai segitu,” ujarnya kepada Radar Jogja, Senin (15/4/2024).
Menurutnya, okupansi hotel di Bantul tidak merata. Ada hotel yang menyediakan puluhan kamar dan cenderung penuh reservasi. Namun hal itu belum tentu sama dengan di tempat lain.
“Kalau dikatakan tinggi ya ada yang tinggi, tapi juga ada yang rendah. Kalau average sekitar 75 sampai 80 persen tingkat hunian selama liburan,” jelas Hendra.
Ia menyebut, tarif penginapan di Bantul memang ada yang naik. Namun, nilainya tidak begitu tinggi.
Adanya kenaikan tarif penginapan telah jauh-jauh hari diperkirakan oleh pihaknya. Namun, besarannya tidak terlalu besar, yakni sekitar 20 persen.
Menurut Hendra, tingkat daya beli masyarakat masih cukup bagus.
“Ini hanya sebuah kebosanan sesaat dari wisatawan yang berkunjung ke DIY, bahkan ke Bantul, karena setiap liburan ke Jogja. Kalau jogja tidak mengembangkan destinasi baru tentu akan tertinggal,” lontarnya.
Hendra mengatakan, rata-rata para wisatawan yang melakukan reservasi hotel masih didominasi wisatawan dari Pulau Jawa.
Yakni, dari Jakarta, Tangerang, Surabaya, dan Jember. Mereka sudah melakukan reservasi jauh-jauh hari.
"Kalau saya lihat tamu-tamu ini kebanyakan dari masyarakat kelas menengah,” katanya.
Sementara itu, tingkat length of stay wisatawan di Bantul hanya berkisar satu hari, maksimal dua hari.
Menurut Hendra, rendahnya durasi tinggal wisatawan disebabkan tidak banyaknya pilihan bagi wisatawan, terutama di Bantul terkait akomodasi. Sehingga wisatawan lebih banyak mencoba ke daerah lain.
“Length of stay di Sleman tinggi, bisa 2-3 hari, karena mereka mencoba di kawasan yang sama, masih satu kabupaten. Kota Jogja juga begitu,” terang Hendra.
Koordinator Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) Parangtritis Rokhmad Ridwanto mengatakan, ada ribuan wisatawan yang Pantai Parangtritis.
Ia memperkirakan sebagian besar wisatawan berasal dari luar kota. Karena plat nomor kendaraan yang digunakan menggunakan pelat luar DIY.
“Ramai tahun kemarin, sampai H+3 dengan tahun kemarin selisih sekitar sembilan ribuan,” ungkapnya.
Kepala Seksi Promosi Kepariwisataan Dinas Pariwisata Bantul Markus Purnomo Adi menjelaskan, pada libur Lebaran 2023 lalu, rata-rata kunjungan mencapai 24 ribu selama enam hari.
Sedangkan pada lebaran tahun ini, rata-rata kunjungan hanya 20-21 ribu per hari.
Ipung, sapaannya, mengakui jawatannya belum melakukan evaluasi terkait penurunan jumlah tersebut.
Namun, dirinya menilai bahwa pariwisata saat ini bukan menjadi kebutuhan primer bagi masyarakat.
Sebab, masyarakat saat ini banyak berpikir untuk mencukupi kebutuhan primernya, seperti makan.
“Bisa dilihat ketika harga beras naik semua teriak. Menjelang lebaran harga bapok pada naik, karena harganya menjadi sangat tidak normal,” ucapnya.
Harga kebutuhan primer, menurutnya, berpengaruh terhadap pergerakan wisatawan. Sebab, mudik atau berwisata saat ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
“Dari situ orang kalau mau dolan ya mikir juga,” ujar Ipung. (tyo)
Editor : Amin Surachmad