RADAR JOGJA - Warisan secara turun-temurun, awalnya daun pandan dijadikan tikar. Lambat laun dikembangkan menjadi berbagai produk seperti tas, dompet, dan topi. Soropadan pun kemudian dikenal sebagai sentra kerajinan daun pandan satu-satunya di Kabupaten Bantul.
Soropadan belum menasbihkan dirinya menjadi desa wisata. Tetapi daerah ini sudah dikenal sebagai sentra kerajinan daun pandan. Warga setempat banyak yang menjadi perajin. Pekerjaan itu dijadikan sandaran penghasilan, selain sebagai petani. Soropadan terletak di Kalurahan Caturharjo, Kapanewon Pandak.
Sutaryono Hasan Basri yang sudah 20 tahun lebih menggeluti kerajinan daun pandan mengaku ilmunya diperoleh dari orang tuanya. Secara otomatis dia meneruskan pekerjaan itu hingga kini. Menurutnya, menjadi perajin daun pandan adalah warisan nenek moyang untuk diteruskan secara turun-temurun.
Proses produksi dilakukan Sutaryono hanya dari rumahnya saja. Saat didatangi, ruang tamu rumahnya berserakan berbagai daun pandang yang sudah dikeringkan. Sejumlah mesin jahit berjejer yang digunakan untuk membentuk anyaman pandan menjadi dompet atau tas. Di sudut-sudut ruang itu ada sejumlah rak yang terpajang rapi hasil anyaman pandan yang dibuatnya.
Dia menceritakan, belajar menjadi perajin anyaman pandan hanya membuat tikar dan tempat sirih untuk nginang. "Saya kembangkan ke macam-macam produksi seperti tas, boks, topi, dompet, dan sendal," tuturnya kepada Radar Jogja kemarin (24/3).
Ia kemudian memodifikasinya sehingga tidak hanya membuat tikar. Itu sebagai upayanya mengembangkan agar menjadi lebih baik. Inovasi itu didapatkan usai mendapat pesan dari berbagai konsumen yang meminta untuk dibuatkan tas atau dompet.
Tanpa disadari, selama berpuluh-puluh tahun hanya mengandalkan rumahnya saja sebagai tempat produksi. Sekarang sudah banyak pemesan yang membeli produknya. Pesanan yang diterima mayoritas borongan untuk dijual kembali atau sebagai suvenir acara pernikahan.
Sesekali dia juga melayani pembelian satuan. Namun, Sutaryono enggan melayani secara fokus karena modelnya berbeda-beda. "Kalau ratusan adalah yang jadi perajin anyaman pandan," tambahnya.
Dari luar DIJ seperti Surabaya dan Semarang pernah datang ke Soropadan untuk belajar anyaman pandan. Bahkan sejumlah wisatawan luar negeri juga datang untuk mengetahui cara pembuatannya. Setelah itu, wisatawan manca itu tidak sedikit yang membeli produknya secara borongan.
Daun pandan didapatkan dari pantai selatan atau juga ada yang dari luar daerah. Pembuatannya hanya membutuhkan waktu beberapa jam saja untuk menghasilkan dompet, tas, sandal ataupun boks. Berbeda ketika membuat tikar yang memakan waktu sekitar satu pekan. Sekarang pembuatan tikar jarang dilayani, karena memakan waktu lama tetapi peminatnya mulai berkurang.
Tidak hanya bermodalkan daun pandan, Sutaryono juga menginovasikannya dengan berbagai motif. Seperti diwarnai dan memakai manik-manik untuk mempercantik tampilan. Pemesannya rata-rata dari Bali, Jakarta, Semarang, dan Jawa Timur ada. Ada juga yang dari daerah di DIJ.
Anyaman pandan produk Sutaryono ini juga sudah ada yang diekspor ke luar negeri. Konsumennya rata-rata pelanggan tetap yang sudah mengorder secara berulang kali. "Terakhir dua pekan lalu mengirim ke Malaysia," ucapnya. Dia mengaku, dari menjadi perajin pandan sebulan mendapatkan sekitar Rp 5 jutaan keuntungan bersih.
Sementara itu, Lurah Caturharjo Wasdiyanto menambahkan, sekarang penganyam di Soropadan sudah membutuhkan regenerasi. Itu karena kini mayoritas perajinnya merupakan kalangan simbah-simbah.
Menurutnya, warga Soropadan menjadi penganyam pandan karena membantu suaminya yang bekerja di sawah. Itu lantaran karena pendapatan yang diperoleh dari bertani di sawah nilainya tidak seberapa. Apalagi lahan sawahnya tidak terlalu luas.
"Memang dengan anyaman pandan itu bisa nyambung urip," ungkapnya. Menurut Wasdiyanto, sudah lama masyarakat Soropadan menjadi penganyam pandan. Bahkan sejak kecil ia sudah melihat banyak warganya menjadi perajin daun pandan.
Diperkirakan sudah sekitar 50-an tahun di Soropadan masyarakatnya dikenal sebagai perajin pandan. Dari yang awal produksinya mengandalkan pandan di Caturharjo, kini sebagian harus membelinya dari luar Bantul seperti Trisik, Kulon Progo. (laz)
Editor : Satria Pradika