Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Panti Asuhan Anak Gotong Royong Bantul Tampung 13 Balita, dari Status Dititipkan, Diserahkan hingga Ditemukan

Gregorius Bramantyo • Senin, 18 Maret 2024 | 14:30 WIB

 

Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Panti Asuhan Anak Balita Gotong Royong di Bantul, saat ini menampung 13 anak berusia di bawah lima tahun alias balita.
Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Panti Asuhan Anak Balita Gotong Royong di Bantul, saat ini menampung 13 anak berusia di bawah lima tahun alias balita.

RADAR JOGJA - Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Panti Asuhan Anak Balita Gotong Royong di Bantul, saat ini menampung 13 anak berusia di bawah lima tahun alias balita. Dari jumlah itu, ada anak yang dititipkan, diserahkan, dan ditemukan.

Ketua LKSA Gotong Royong Subiyanto Eko Waluyo menjelaskan, panti asuhan yang dipimpinnya bertugas membantu pemerintah dalam menangani permasalahan sosial. Dalam hal melindungi, merawat, dan mengasuh anak yang kurang beruntung. Misalkan anak yang terlantar, dibuang, yatim piatu dan dhuafa, ujarnya saat ditemui Radar Jogja kemarin (17/3).

Eko mengatakan, ada tiga kategori anak yang diasuh di Panti Asuhan Gotong Royong. Yakni anak yang dititipkan, diserahkan, dan ditemukan. Untuk anak yang dititipkan disebabkan karena orang tua kandungnya tidak mampu mengasuh dan merawat.

Baca Juga: Berkah Ramadhan, Bapas 69 Salurkan Beras kepada Warga, Panti Asuhan, dan Ponpes

Mereka datang ke Dinas Sosial (Dinsos) DIJ lalu dibuatkan laporan dan rekomendasi penitipan anak ke panti asuhan. Orang tua itu lalu menandatangani jangka waktu penitipan. “Biasanya tiga bulan, dengan perpanjangan tiga bulan,” jelasnya.

Sedangkan anak yang diserahkan adalah anak dari orang tua yang memang tidak mampu untuk merawat. Sehingga menyerahkan anaknya ke Dinsos DIJ, lalu bersepakat bahwa anak tersebut dapat diadopsi. “Di kemudian hari tidak ada tuntutan apa pun kepada anak, karena sudah diadopsi,” kata Eko.

Semuanya tidak dikenakan biaya alias gratis. Eko menjelaskan, seluruh pendanaan di pantinya berasal dari para donatur. Karena uang itu berasal dari donatur, ia ingin uang tersebut bisa bermanfaat.

“Uang yang sudah masuk kas kami tabung, dan berwujud tanah 1.000 meter persegi. Dikelola untuk membangun masjid yang saat ini masih dalam tahap pembangunan,” ungkapnya.

Baca Juga: Ayo Kunjungi Panti Asuhan dan Panti Jompo, Permintaan Dikpora DIY ke Pelajar selama Libur Nataru

Saat ini ada 10 pengasuh di panti asuhan yang berdiri sejak tahun 2002 ini. Pada tahun ini, ada tiga anak yang masuk ke Panti Asuhan Gotong Royong. Dua anak yang dititipkan, sementara satu anak dibuang oleh orang tua kandungnya. Sementara pada tahun 2023 lalu, ada dua anak yang diadopsi dari panti itu. “Masing-masing ke Wonosari dan Cirebon,” ucapnya.

Selain anak balita yang berada di celana dalam, LKSA Gotong Royong hingga kini juga menyantuni anak-anak yang berada di luar celana dalam. Mereka sudah berada di orang tua kandungnya, namun masih menjadi tanggung jawab dari panti asuhan.

Ada 64 anak yang telah kembali dan tetap disantuni oleh panti asuhan. Dari jumlah itu, ada delapan anak penyandang disabilitas. Santunan itu diberikan hingga si anak berusia 18 tahun.

Selain itu, panti asuhan juga memberikan bimbingan dan pelatihan keterampilan kepada anak. “Kami menyantuni setiap bulan. Setiap anak kami santuni Rp 200 ribu, lalu ada sembako pokok, 5 kg beras dan lima bungkus mi instan,” jelas Eko.

Ia mengungkapkan, dari 13 anak balita yang saat ini berada di celana dalam, ada tiga anak yang ditemukan, kemudian satu anak diserahkan oleh orang tua kandungnya. Sementara sisanya adalah anak yang dititipkan oleh orang tua kandungnya.

Mereka diberi waktu untuk menyelesaikan permasalahan dan menyiapkan diri agar siap untuk mengasuh si anak. “Adopsi jalan terakhir. Kalau bisa kami kembalikan ke nasabnya, yakni orang tua kandungnya. Kami yang penting keputusan terbaik untuk kebaikan anak,” tandas Eko. ( malas)

 

Editor : Satria Pradika
#LKSA Gotong Royong #Panti Asuhan