Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pola Asuh Jadi Faktor Utama Stunting di Sriharjo Bantul

Gregorius Bramantyo • Kamis, 14 Maret 2024 | 01:34 WIB
Lurah Sriharjo Titik Istiyawatun.
Lurah Sriharjo Titik Istiyawatun.

BANTUL - Angka stunting di Kabupaten Bantul mengalami penurunan sejak tahun 2022.

Merujuk hasil penimbangan balita, angka stunting di Bantul pada tahun 2023 menyentuh angka 6,36 persen.

Hanya saja, saat ini sejumlah wilayah di Kabupaten Bantul mengalami kenaikan jumlah stunting.

Salah satunya adalah Kalurahan Sriharjo di Kapanewon Imogiri.

Lurah Sriharjo Titik Istiyawatun mengungkapkan, angka stunting di wilayahnya sempat turun pada Desember 2023 di bawah 11 persen.

Namun, meningkat menjadi 13 persen pada Februari 2024 lalu.

“Kebanyakan bayi baru lahir yang stunting, atau kalau yang sudah diintervensi balik stunting lagi setelah sekitar satu bulan tidak diintervensi,” ungkapnya, Rabu (13/3).

Kasus stunting di Kalurahan Sriharjo didominasi pada bayi yang baru lahir. Upaya yang dilakukan pemerintah kalurahan seperti penyadaran kepada ibu hamil.

Namun, dalam sebulan terakhir, angkanya justru naik.

"Target zero stunting kami di 2027, mudah-mudahan nanti bisa tercapai,” harap Titik.

Dari data dan pemetaan yang dilakukan, kasus stunting di Sriharjo kebanyakan disebabkan karena pola asuh.

Banyak ibu yang bekerja sehingga anak diasuh oleh kakek atau neneknya dan asisten rumah tangga.

“Jadi, pemantauannya kurang ketika ibu bekerja. Kalau ASI eksklusif sudah lumayan baik sebenarnya,” ujar Titik.

Selain dari pola asuh, tingkat kemiskinan warga juga berpengaruh terhadap balita yang stunting di Sriharjo.

Namun, dari data yang dipetakan oleh pemerintah kalurahan, faktor pola asuh masih mendominasi.

Terkait hal itu, pihak kalurahan saat ini sedang merencanakan bentuk intervensinya.

“Apakah mengumpulkan pengasuh balita untuk diberikan kesadaran, itu masih kami diskusikan sekarang,” kata Titik.

Sementara itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul menyebut target angka stunting pada 2024 sebesar 8 persen.

Dinkes Bantul juga telah melakukan beberapa intervensi terhadap ibu hamil dan anak stunting. Guna menurunkan jumlah anak stunting di Bantul.

“Untuk pencegahan stunting di tahun ini kami melakukan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk ibu hamil yang Kekurangan Energi Kronis (KEK) dan balita malnutrisi,” jelas Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinkes Bantul Siti Marlina.

Menurut Lina, upaya penanganan stunting tidak hanya di dinkes saja. Sebab, dinkes hanya bagian dari intervensi spesifik.

Sementara untuk intervensi stunting sendiri ada intervensi spesifik dan sensitif.

"Penanganan stunting kami upayakan secara konvergensi, baik intervensi spesifik maupun sensitif,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pencegahan juga dilakukan dengan pemeriksaan. Dimulai dengan pemeriksaan hemoglobin pada remaja putri.

Juga, pemberian tablet tambah darah untuk remaja putri seminggu sekali.

Kemudian pemberian edukasi terkait kesehatan reproduksi dan pola pangan serta pola asupan gizi yang seimbang.

“Supaya tidak hanya untuk mencegah anemia tapi juga mencegah malnutrisi pada remaja putri,” tandas Lina. (tyo)

 

Editor : Amin Surachmad
#Angka stunting #Bantul