BANTUL – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) mendorong modernisasi alat pertanian untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian.
Meski begitu, saat ini baru ada 17 gabungan kelompok tani (gapoktan) di Bantul yang memiliki mesin combine harvester.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul Joko Waluyo menyampaikan, kebutuhan mesin combine harvester di Bantul masih tinggi.
Pada tahun 2024 ini ada pengadaan enam unit mesin combine harvester.
Sementara tahun 2023 hanya ada 11 unit. Mesin combine harvester diharapkan dapat mempercepat pekerjaan petani.
“Masih banyak yang belum punya (combine harvester). Dari 75 gapoktan baru ada 17 yang punya,” katanya di sela kegiatan bantuan penyerahan alat pertanian di Kantor Kalurahan Sriharjo, Imogiri, Bantul, Jumat (8/3).
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menyebut, Pemkab Bantul berupaya agar seluruh gapoktan di Bumi Projotamansari dilengkapi dengan alat-alat pertanian.
Namun, secara bertahap. Sebab, biayanya relatif mahal.
"Satu combine harvester itu seharga lebih dari Rp 500 juta. Belum nanti ada traktor, rice transplanter, dan cultivator,” jelasnya.
Menurutnya, penggunaan mesin di pertanian menjadi kebutuhan. Sebab, jumlah tenaga pertanian di Bantul menurun.
Sementara mencari buruh tanam dan panen saat ini tidak mudah. Maka kelangkaan tenaga kerja harus diganti dengan mesin-mesin tersebut.
“Faktanya itu lebih efisien untuk membayar tenaga dan mesin,” imbuh Halim.
Ia mengatakan, upaya intensifikasi ini menggerakkan dan memobilisasi mesin-mesin pertanian.
Meskipun saat ini lahan pertanian di Bantul kian menyempit, dengan menerapkan teknologi maka produksi pertanian mampu naik.
Dari yang sebelumnya hanya 4 ton per hektare, kini mampu mencapai 8 ton per hektare.
“Bahkan, ada yang 10 ton. Hal itu terjadi karena peran teknologi yang masuk di dalam sistem pertanian, baik tanaman pangan maupun hortikultura,” ujar Halim.
Lurah Sriharjo Titik Istiyawatun menjelaskan, ada dua tipe lahan di Sriharjo. Yakni, lahan padi di Sriharjo bagian barat, lalu lahan hortikultura di Sriharjo bagian timur.
Namun, lahan di bagian timur juga memanen padi setidaknya sekali dalam setahun.
Pemberian mesin combine harvester oleh Pemkab Bantul sendiri diharapkan bermanfaat bagi petani. Sebab mayoritas lahan di Sriharjo adalah padi.
Tidak ada palawija karena kualitas airnya baik. Sehingga butuh alat yang bisa lebih mengefektifkan produksi yang dilakukan petani.
"Meskipun nanti harus diimbangi dengan peningkatan kualitas produksi pertanian,” jelasnya.
Mesin combine harvester itu nantinya akan dikelola secara khusus oleh gapoktan. pihak kalurahan nantinya akan melakukan pendampingan.
Kemudian melakukan upaya promosi karena belum banyak yang memiliki mesin tersebut.
“Harapannya tidak hanya di Sriharjo, tapi juga melayani petani di sekitar Sriharjo dan bisa melebar ke mana-mana,” harap Titik. (tyo)
Editor : Amin Surachmad