BANTUL – Menjelang Hari Raya Nyepi, umat Hindu di Yogyakarta dan sekitarnya melakukan upacara Melasti di Pantai Parangkusumo, Bantul, Minggu (3/3).
Ritual ini bermakna pembersihan diri dari perbuatan buruk di masa lalu.
Berpakaian serba putih dan mengenakan udeng atau ikat kepala yang digunakan masyarakat Bali, para umat Hindu meletakkan bunga-bunga, sesaji, dan tumpeng berwarna-warni di atas meja persembahan yang berjajar rapi. Tak jauh dari bibir pantai.
Setelah melewati berbagai ritual dan prosesi, upacara dilanjutkan dengan para perempuan berbusana adat Bali yang berjalan mengelilingi meja saji dengan membawa sesaji dalam nampan.
Mereka berjalan mengelilingi meja saji. Sesekali tatapannya melirik ke kanan dan kiri mengikuti alunan gamelan Bali.
Ritual ini ditutup dengan memercikkan air suci. Berselang beberapa waktu, para penari dan orang suci dalam agama Hindu mulai membawa beberapa sesaji pambuka ke bibir pantai.
Selanjutnya dilarung ke laut. Setelah itu, jalannya sembahyang yang dipimpin seorang pandita pun dimulai.
Upacara Melasti ini adalah salah satu agenda tahunan yang dilakukan oleh umat Hindu jelang Hari Raya Nyepi.
Upacara Melasti Parangkusumo dibagi menjadi dua sesi.
Sesi pertama yakni seremonial yang dilakukan bersama dengan para pejabat wilayah setempat.
Lalu agenda dilakukan dengan ibadah yang hanya diikuti oleh umat Hindu.
Prosesi acara Melasti Parangkusumo sendiri dipuput oleh Ida Bagawan Putra Manuaba, Ida Bhegawan Dalem Manik, dan Sira Empu Putra Girinatha.
Prosesi Melasti Parangkusumo sendiri berlangsung kurang lebih sejak pukul 09.30 dan selesai sekitar pukul 13.30.
Dengan prosesi akhir Melasti yakni labuhan atau prosesi menenggelamkan atau memberikan sesuatu ke air laut.
Ketua Umum Panitia Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1946 DIY I Wayan Suardana mengatakan, upacara Melasti bertujuan untuk memohon kepada Tuhan agar mikro kosmos dan makro kosmos itu dibersihkan.
Di sisi lain, melalui Melasti umat memohon agar alam juga disucikan, yaitu makro kosmos.
Ini agar alam bisa menjadi tempat yang harmonis bagi manusia dan seisinya.
“Kami memohon supaya dibersihkan pikiran, perkataan, dan perbuatan menjadi lebih baik. Melalui Melasti kami membuang kotoran-kotoran itu kepada Tuhan Yang Maha Esa agar dibersihkan, supaya siap menyelenggarakan Hari Raya Nyepi,” katanya, Minggu (3/3).
Tema Nyepi Tahun Saka 1946 adalah “Hamemayu Hayuning Bawana”. Makna dari Melasti ini sendiri adalah membersihkan diri.
Di mana dalam proses ritualnya ada Sulinggih yang membersihkan dengan mantra dan doa.
Hal ini untuk kebaikan bersama, membersihkan semua umat.
“Kami ambil laut saat larung, nanti yang dilarung ada beberapa binatang seperti bebek, dan ubo rampe lainnya,” jelas Wayan.
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih Halim berharap adanya kedamaian umat beragama di DIY, khususnya Bantul.
Pemkab Bantul mempunyai visi yaitu terwujudnya masyarakat Bantul yang harmonis, sejahtera dan berkadilan.
“Harmonis artinya guyub, rukun tidak ada konflik, saling tolong menolong, dan toleransi. Itulah kehidupan harmonis yang kita cita-citakan,” ujarnya.
Ia menyebut, untuk mencapai kehidupan harmonis bagi umat Hindu di Bantul dan DIY menjadi tanggungjawab seluruh masyarakat Bantul dan DIY.
Sebab, semua agama mengajarkan kehidupan harmonis.
”Karena kita sama sama mahluk Tuhan yang harus menjaga keselarasan alam ini,” tandas Halim. (tyo)
Editor : Amin Surachmad