BANTUL – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Bantul berupaya mendorong pengembangan produksi garam di wilayah Pantai Selatan (Pansela).
Hal itu lantaran tambak garam berpotensi untuk dikembangkan di wilayah tersebut. Hanya saja, jumlah tambak garam di Bantul saat ini masih minim.
Kepala Seksi Pembinaan dan Pengawasan Usaha Perikanan DKP Bantul Irawan Waluyo Jati mengatakan, saat ini tambak garam di Bantul hanya ada di Kapanewon Sanden. Yakni, di Kalurahan Gadingsari dan Srigading.
“Di Bantul sementara ini masih hanya untuk lingkup sekitaran tempat produksi garamnya. Jadi belum satu kabupaten,” jelasnya.
Menurut Irawan, tambak garam dinilai potensial untuk dikembangkan di wilayah pansela Bantul.
Meski begitu, hingga saat ini pengembangan tambak garam di Bantul masih memerlukan dukungan dan pendampingan dari segi produksi dan pemasaran.
DKP Bantul pun menargetkan perbaikan tanel garam yang rusak untuk meningkatkan jumlah produksi garam tahun 2024.
“Tambak garam di Gadingsari yang sempat abrasi akan dipindah ke lokasi lain yang dinilai tidak terkena abrasi,” ucapnya.
Ulu-Ulu Kalurahan Srigading Sudrasman menyebut, saat musim hujan pengoperasian tambak garam berhenti.
Sebab, kadar garam terganggu karena terkena air hujan.
“Berkurang sangat banyak sehingga menjadi tidak normal,” ungkapnya.
Potensi tambak garam di Srigading sebenarnya sangat berpotensi. Hanya saja kendalanya adalah keterbatasan lahan. Kalau yang di Srigading kebanyakan hanya untuk pelatihan.
Sementara tambak garam di Kalurahan Gadingsari lebih sering digunakan untuk produksi dengan menggunakan dana dari APBN sebesar Rp 750 juta.
“Tapi walaupun untuk pelatihan juga produksi juga. Yang mengambil dari pengolahan pengasinan ikan di Kasongan,” ujar Sudrasman.
Baca Juga: Berlangsung Sengit, Liverpool Juara Carabao Cup Usai Taklukkan Chelsea di Perpanjangan Waktu
Ia menjelaskan, produksi garam jumlahnya tak menentu.
Sebab, di awal saat musim kemarau tingkat kadar garam baik. Hanya saja penampungan garam bocor.
Sementara saat musim hujan seperti saat ini kualitas dan kadar garam terganggu.
“Prosesnya lebih lama karena tercampur air tawar,” katanya.
Baca Juga: Pelaksanaan PSU dan PSL Berjalan Lancar, Hanya Tingkat Partisipasi Masyarakat Pemilih Menurun
Saat ini di Srigading sendiri ada lima tanel garam. Masing-masing tanel berukuran 9 kali 4 meter.
Sementara untuk petani garam di Srigading mengalami penurunan. Dari yang awalnya ada 16 petani kini menyusut menjadi sembilan petani.
“Karena banyak yang berprofesi lain, ada yang petani padi dan pelaut,” tandas Sudrasman. (tyo)
Editor : Amin Surachmad