Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kasus Demam Berdarah di Bantul Berangsur Turun Dua Tahun Terakhir

Amin Surachmad • Minggu, 18 Februari 2024 | 23:30 WIB
Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan Bantul Samsu Aryanto.
Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan Bantul Samsu Aryanto.

BANTUL – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul menyebut kesadaran masyarakat Bantul untuk menerapkan Gerakan Serentak Pemberantasan Sarang Nyamuk (Gertak PSN) sudah cukup tinggi.

Hal itu dibuktikan dengan rendahnya kasus demam berdarah sejak satu tahun terakhir. 

Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul Samsu Aryanto mengatakan, masyarakat Bantul sudah memiliki kesadaran untuk menciptakan lingkungan yang bersih.

Tidak membiarkan tempat terbuka yang berdampak pada perindukan nyamuk. Hal itu membuat kasus demam berdarah turun.

“Di satu setengah bulan ini masih terkendali,” ujarnya saat ditemui di kantornya, Jumat (16/2). 

Sejak 1 Januari hingga 16 Februari 2024, Dinkes Bantul mencatat ada 11 kasus demam berdarah. Jumlah tersebut tersebar di delapan kapanewon.

Yakni  Bambanglipuro, Bantul dan Pleret dengan masing-masing 2 kasus. Kemudian Banguntapan, Imogiri, Pajangan, Pandak dan Pundong masing-masing dengan 1 kasus.

Jumlah 11 kasus tersebut jauh lebih rendah dibanding pada periode yang sama di tahun lalu.

Di mana, pada tahun lalu ada 32 kasus di Januari 2023 dan 19 kasus pada Februari 2023.

Sementara sepanjang 2023 ada 133 kasus. “Nol kasus kematian,” kata Samsu. 

Sementara itu sepanjang tahun 2022 ada 956 kasus demam berdarah dengan lima kasus kematian di Bantul. 

Menurut Samsu, faktor masyarakat cukup berperan besar dalam penurunan kasus demam berdarah di Bumi Projotamansari.

Namun, ia juga menyebut bahwa faktor lingkungan dan deteksi dini juga memiliki andil.

“Semuanya saling berkaitan dan saling berkontribusi,” ucapnya. 

Ia menjelaskan, ketika ada kasus demam berdarah di Bantul pasien dilarikan ke fasilitas layanan kesehatan. Ada yang di klinik, puskesmas dan rumah sakit.

Untuk kasus di level tertentu masih bisa ditangani oleh puskesmas dan klinik.

Namun, ketika memerlukan penanganan lebih lanjut, maka perlu dirujuk ke rumah sakit.

“Contohnya kalau harus transfusi kan di puskesmas tidak mungkin, tapi kalau sekadar infus di puskesmas juga bisa,” jelasnya. 

Dinkes Bantul tidak hanya berkoordinasi dengan kelompok kerja (pokja) tingkat kabupaten untuk menanggulangi penyakit demam berdarah. 

Namun, juga dengan pihak lain seperti masyarakat yang aktif dalam penanganan kasus. 

“Demam berdarah tidak sekadar mengobati dan mendiagnosis, tapi juga bagaimana mencegah dengan pemberantasan sarang nyamuk,” terang Samsu. 

Upaya pencegahan seperti fogging juga tetap disiapkan. Menurut Samsu, kesadaran masyarakat kini sudah tinggi.

Masyarakat dinilai sudah mampu menjaga dan merawat kebersihan lingkungan agar tidak di-fogging. Sebab, fogging mengandung insektisida.

Bukan tidak mungkin, lanjut Samsu, masyarakat tetap melakukan Gertak PSN. 

“Kalau jumlah fogging menurun kan penghematan anggaran juga. Walaupun kami tetap mengantisipasi kalau ada permintaan,” ungkap Samsu. 

Ia menyebut, fogging sendiri dilakukan tidak menentu di setiap tahunnya. Sebab, sebuah wilayah hanya di-fogging paling banyak satu kali.

Meskipun di kemudian hari di wilayah tersebut terjadi kasus lagi.

“Prosedur tetapnya kalau ada kasus maka daerah itu yang di-fogging,” jelasnya. (tyo)

Editor : Amin Surachmad
#demam berdarah #dinkes #Gertak PSN #Bantul