RADAR JOGJA - Menjadi petani anggur tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh Rio Aditya. Pria yang pernah menjadi guru itu awalnya hanya coba-coba menanam anggur. Keisengannya karena sering makan buah anggur lantas ingin mencoba menanamnya. Siapa sangka, kini dia berhasil mengantongi omzet hingg Rp 60 juta per bulannya.
Bermodalkan halaman rumah, Rio kini fokus menjadi petani anggur di Dusun Plumbonan, Bambanglipuro, Bantul. Terhitung sejak 2010, saat dia melepaskan profesi gurunya. Langkahnya tidak selalu mudah. Awal budi daya, Rio sering mengalami gagal panen. "Empat tahun saya baru survive belajar secara autodidak. Ke sana ke mari, lewat internet juga," katanya kepada Radar Jogja Kamis (8/2).
Tanaman anggurnya, kini hanya ada di lahan seluas 350 meter persegi. Tidak hanya menjual anggur, Rio juga menjual bibit tanaman anggur. Banyak pembelinya datang ke rumahnya untuk bertransaksi secara langsung. Selain itu, dia juga menyediakan penjualan melalui platform online.
Diakui Rio, pendapatannya sebagai guru dibanding sebagai petani anggur jauh berbeda. Saat menjadi guru, dia hanya bisa mengantongi Rp 700 ribu hingga Rp 1,4 juta. Sedangkan omzet dari menjual buah anggur dan bibitnya kurang lebih mencapai Rp 60 juta.
Langkah iseng Rio, juga berdampak ke lingkungan rumahnya. Sebab kini wilayahnya dikenal dengan Kampung Anggur. Lantaran banyaknya masyarakat yang mengikuti jejaknya sebagai petani anggur. "Disebut Kampung Anggur karena setiap hari ada terus anggurnya," ungkapnya.
Meski awalnya ratusan orang yang ikut budi daya, namun saat ini hanya tinggal puluhan orang saja. Berkurangnya petani anggur disebut karena faktor kebosanan dan tidak survive dengan menanam anggur. (rul/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita