RADAR JOGJA - Implementasi Kartu Tani untuk akses pupuk subsidi di Bantul masih menemui kendala. Sejumlah petani kesulitan dengan mekanisme penggunaan Kartu Tani. Seperti tidak bisa digunakan di tingkat pengecer.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Patalan Sumantri mengungkapkan, sempat beberapa kali kesulitan mengakses pupuk subsidi lantaran Kartu Tani miliknya sering tidak dapat digunakan. "Dari pengecer tidak bisa digesek, mau ngelacak sulitnya di mana males," keluhnya kemarin (7/2).
Sudah setahun terakhir Sumantri dan kelompok taninya tidak menggunakan pupuk subsidi dari pemerintah. Akhirnya beralih menggunakan pupuk non-subsidi. Yakni Phonska Plus dan Mutiara. Meskipun harganya tiga kali lipat lebih mahal dari pupuk subsidi. Namun menurutnya, hasilnya justru lebih bagus. “Petani sebenarnya carinya yang murah. Tapi kalau murah dan jelek ya sama saja. Sudah murah, jelek, sulit lagi,” lontar Sumantri.
“Dengan syarat petani tersebut terdaftar ke dalam e-Alokasi,” jelasnya.
Selama ini, petani yang tidak mendapatkan pupuk bersubsidi, kemudian beranggapan pupuk langka. Untuk itu, dinasnya melakukan monitoring dan evaluasi di semua kapanewon. Yakni bertemu dengan petani, penyuluh, bank, dan kios. “Dengan tujuan mencari tahu secara langsung permasalahan yang dihadapi di lapangan, serta menyampaikan kebijakan terbaru terkait pupuk bersubsidi dan Kartu Tani,” kata Arifin.
Kepala DKPP Bantul Joko Waluyo menambahkan, masalah penyaluran pupuk subsidi tidak hanya di DKPP Bantul saja. Dalam prosesnya, DKPP Bantul hanya sebagai pendamping dalam penyusunan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompoktani (RDKK) untuk mengetahui kebutuhan pupuk subsidi.
“Tapi kami tidak lepas tangan, karena penyalurannya kami bekerjasama dengan Dinas Perdagangan Bantul,” ujarnya.
Baca Juga: Serahkan LKPD ke BPK, Wagub DIY Ingin Pertahankan Opini WTP Ke-14 Kali
Menurutnya, sejauh ini penyaluran pupuk subsidi di Bantul cukup lancar. Dinasnya mendorong agar para petani segera menebus pupuk subsidi agar segera tercukupi saat masa tanam (MT) pertama. “Sehingga produksi di MT 1 bisa maksimal. Istilahnya bisa memaksimalkan produksi di MT 1,” harapnya.
Joko menjelaskan, pemerintah pusat akan menambah alokasi pupuk di MT selanjutnya. Hal itu telah disampaikan oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bahwa kementerian memiliki anggaran Rp 14 triliun untuk bisa membeli pupuk 2,5 juta ton. “Sehingga alokasi pupuk di Indonesia bisa tercukupi,” tandasnya. (tyo/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita