BANTUL – Tiga siswa kelas IV SDN Terban, Padukuhan Cangkring, Kalurahan Sidomulyo, Bambanglipuro, Bantul, mengalami luka ringan setelah terkena reruntuhan plafon ruangan kelas pada Jumat (19/1) pagi.
Ketiganya pun harus dilarikan ke Puskesmas Bambanglipuro.
Kasi Humas Polres Bantul AKP I Nengah Jeffry Prana Widnyana menjelaskan, tiga siswa tersebut berinisial SSB, 10; ANDP, 10; dan LCH, 9.
Tiga siswa itu kemudian dilarikan ke Puskesmas Bambanglipuro dan sudah mendapatkan pengobatan.
"Dari kejadian itu ada kerugian materi kurang lebih Rp 5 juta," katanya, Jumat (19/1).
Kepala SDN Terban Maria Titik Marsiswadi mengatakan, peristiwa itu terjadi pada pukul 06.45 saat hujan lebat. Ketika itu seluruh plafon di ruangan kelas IV runtuh.
Ia menduga karena plafonnya tidak kuat menahan bocoran air hujan. Sebab, sebelumnya ada bagian atap tersebut yang bocor.
"Sehingga meresap ke dalam plafon dan menyebabkan plafon runtuh seluruhnya," ungkapnya.
Saat kejadian runtuhnya plafon di ruang kelas IV, ada tiga murid yang sedang berada di dalam kelas.
Satu murid duduk di kursi sedangkan dua murid lainnya sedang bermain di lantai kelas. Akibatnya, siswa yang duduk di kursi mengalami luka di bagian kepala karena tertimpa reruntuhan plafon kelas IV.
Sementara dua murid lainnya tertimpa plafon pada bagian punggungnya.
"Mereka langsung dilarikan ke Puskesmas Bambanglipuro untuk mendapatkan perawatan medis dan langsung kami minta pulang," jelas Maria.
Ia menyebut, penyebab plafon itu runtuh juga diduga karena usia. Sebab bangunan sekolah itu belum pernah direnovasi sejak dibangun pada 2007 silam.
Selain itu, ada beberapa plafon di kelas lain yang juga rusak. Namun telah diperbaiki dengan dana bantuan operasional sekolah (BOS).
Setelah kejadian itu, pihak sekolah langsung memulangkan 67 siswa. Selanjutnya mereka melakukan pembelajaran jarak jauh.
"Siswa baru diperbolehkan melakukan pembelajaran di sekolah setelah plafon di semua ruangan dinyatakan aman,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bantul Isdarmoko mengatakan, kejadian tersebut disebabkan karena kondisi atap bangunan SDN Terban yang lapuk karena dibangun 2007 atau pasca gempa 2006.
Ia menjelaskan, atap sekolah itu terbuat dari baja ringan. Sementara penutup atapnya dari genteng seng dan plafon gypsum.
Kondisi bautnya pun sudah kendor sehingga air hujan dapat masuk.
“Dari situ membuat paku plafon karatan. Akhirnya ketika harus menyangga beban, gypsum tadi tidak kuat, akhirnya jebol,” ujarnya.
Isdarmoko menjelaskan, hampir seluruh bangunan di SDN Terban kondisinya serupa.
Di mana, bagian plafon sebelumnya telah runtuh. Namun telah ditangani oleh pihak sekolah.
Meski begitu, saat ini Disdikpora Bantul tidak memiliki anggaran untuk penanganan tersebut.
Baca Juga: Ini Profil Siklon Tropis Anggrek, Ekornya Bikin Hujan Lebat Sejumlah Wilayah di Indonesia
Isadrmoko pun berupaya berkoordinasi dengan BPBD Bantul dan DPUPKP Bantul untuk mencari mekanisme anggaran yang dapat dialokasikan untuk penanganan tersebut.
“Kami belum tahu anggaran yang bisa digunakan, yang di kami mekanismenya sudah tidak mungkin. Mungkin nanti di APBD perubahan akan kami konsultasikan ke DPUPKP atau BPBD, barangkali ada dana Belanja Tak Terduga (BTT) yang langsung bisa dialokasikan,” tandasnya. (tyo)
Editor : Amin Surachmad