Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

2024, Ada Tambahan Luas Panen 5 Ribu Hektare di Bantul

Gregorius Bramantyo • Rabu, 10 Januari 2024 | 22:39 WIB
PANEN: Anggota kelompok Tani Bulus Kulon merontokkan padi yang telah dipanen menggunakan mesin di wilayah Kalurahan Sumberagung, Kapanewon Jetis, Bantul.
PANEN: Anggota kelompok Tani Bulus Kulon merontokkan padi yang telah dipanen menggunakan mesin di wilayah Kalurahan Sumberagung, Kapanewon Jetis, Bantul.

BANTUL – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bantul memperkirakan akan terjadi peningkatan luas panen pada tahun 2024. Hal ini menyusul mundurnya masa tanam pada 2023 yang diakibatkan El Nino.

Kepala DKPP Bantul Joko Waluyo mengatakan, pada tahun 2023 terjadi penurunan luas panen sekitar 1.500 hektare.

Pada tahun 2024 ini, pihaknya memperkirakan ada penambahan luas panen seandainya tidak terjadi El Nino.

“Ada penambahan produksi karena penambahan luas panen di 2024 sekitar lima ribu hektare, karena terjadi masa tanam yang mundur tahun 2023,” katanya saat ditemui di kantornya, Rabu (10/1).

Pada tahun 2023, luasan panen di Kabupaten Bantul mencapai 28.800 hektare. Pada tahun 2024, Joko memperkirakan akan ada penambahan luas panen sebanyak lima ribu hektare.

Ia menyebut, hujan yang terjadi saat ini belum bisa maksimal dan masih turun di beberapa titik tertentu alias belum merata.

Namun, menurutnya, saat ini para petani sudah mulai memanfaatkan lahan yang kemarin sempat bero alias tidak ditanami.

“Sudah banyak diolah dan mulai banyak ditanami,” ujarnya.

Menurutnya, untuk luas tambah tanam (LTT) di Bumi Projotamansari lebih baik dibandingkan kabupaten lain. Sehingga pihaknya mengoptimalkan adanya penambahan LTT setiap hari secara maksimal.

“Jadi, harapan kami tanah-tanah yang kemarin sempat bero karena kekeringan bisa segera ditanami dengan memanfaatkan air yang ada secara maksimal,” harapnya.

Joko mengatakan, pada bulan November 2023 lalu memang beberapa kali sempat turun hujan walaupun kemudian berhenti.

Hal itu membuat para petani mengalami kerugian, terutama yang berada di daerah perbukitan seperti di Imogiri atau Dlingo.

“Begitu ada hujan langsung mengolah lahan lalu hujannya berhenti. Akhirnya belum bisa tanam. Tapi ada yang begitu hujan langsung menanam, lalu ada yang tanamannya mati,” ucapnya.

Ia menilai, saat ini para petani sudah mulai memanfaatkan lahan secara maksimal. Sejak pertengahan Desember 2023 saat hujan mulai turun.

Dengan adanya El Nino pada 2023 lalu, DKPP Bantul menggerakkan para kelompok tani untuk memperbaiki saluran irigasi.

"Meski belum besar irigasinya tapi air dan petani juga banyak memanfaatkan pompa untuk pengairan,” kata Joko.

Sementara itu, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Patalan Sumantri mengakui, para petani di Gapoktan Patalan sudah mulai menanam sejak bulan Desember 2023 kemarin.

Namun, sebagian gagal karena kekurangan air. Sebagian yang gagal tersebut harus ditanam ulang. Sementara sebagian dipompa bagi petani yang memiliki biaya.

“Luas lahan di gapoktan kami kurang lebih 200 hektare,” ujarnya.

Ia menjelaskan, untuk padi yang harus ditanam ulang hanya sebesar 20 persen. Saat ini para petani di Gapoktan Patalan belum melakukan penanaman ulang lantaran baru mengolah lahan.

Dengan kondisi musim hujan saat ini, Sumantri menyebut para petani tidak memiliki kendala berarti terkait potensi tergenangnya sawah.

“Kalau di tempat kami pembuangan air rata-rata lancar, kecuali ada banjir besar,” ungkapnya. (tyo)

Editor : Amin Surachmad
#el nino #kabupaten bantul #masa tanam #dkpp