BANTUL – Angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Kabupaten Bantul pada tahun 2023 mengalami penurunan dari tahun 2022.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul menargetkan penurunan AKI dan AKB melalui beberapa upaya secara bertahap.
Berdasarkan data Dinkes Bantul, AKI di tahun 2022 mencapai 16 kasus atau 146 kematian per 100.000 kelahiran hidup.
Sementara pada tahun 2023 mengalami penurunan menjadi sembilan kasus atau 84,36 per 100.000 kelahiran hidup.
Kemudian AKB di Kabupaten Bantul tahun 2022 mencapai 90 kasus atau 8,3 per 1.000 kelahiran hidup. Sedangkan pada tahun 2023 mengalami penurunan hingga mencapai 81 kasus atau 7,59 per 1.000 kelahiran hidup.
Kepala Dinkes Bantul Agus Tri Widiyantara menjelaskan, penyebab AKB pada 2023 lalu didominasi oleh sejumlah penyakit. Antara lain, berat badan lahir rendah (BBLR) dan prematuritas.
“Juga disebabkan asfiksia, kelainan kontingental, dan pneumonia,” ujarnya saat dihubungi, Selasa (9/1).
Agus mengungkapkan, pihaknya menargetkan untuk menurunkan dua kematian per tahunnya.
Pada 2022, pihaknya menargetkan 16 kasus dan tercapai dalam realitanya.
Sementara pada 2023 lalu, pihaknya menargetkan 14.
Dalam realita di lapangan juga tercapai dengan hanya terjadi sembilan kasus kematian.
Baca Juga: Memasuki Musim Hujan, Pemkab Bantul Antisipasi Penumpukan Sampah di Sungai
Guna menurunkan angka kematian ibu dan bayi, Dinkes Bantul sudah melakukan sejumlah upaya.
Seperti zoom meeting dengan puskesmas yang dilakukan setiap seminggu sekali. Yakni, Diskusi Kasus Maternal Mingguan (DisKas MaMi).
Pada diskusi tersebut, masing-masing puskesmas dijadwalkan untuk menyampaikan kasus-kasus resiko tinggi dan kasus-kasus sulit.
Kemudian nanti akan dibahas dan mendapatkan masukan dari dokter-dokter spesialis.
Beserta langkah-langkah yang harus dilakukan untuk kasus-kasus tersebut.
"Agar nanti tidak terjadi kasus-kasus kematian ibu atau bayi,” kata Agus.
Dinkes Bantul juga bekerjasama dengan sejumlah perguruan tinggi untuk pendampingan ultrasonografi (USG) oleh residen di beberapa puskesmas.
Kemudian juga meningkatkan peran serta dokter spesialis dalam perencanaan kehamilan bagi wanita usia subur.
Dinkes Bantul juga meminta kepada dokter-dokter spesialis untuk bisa memberikan edukasi kepada wanita subur yang merencanakan kehamilan.
“Kalau semisal wanita tersebut ada penyakit lain, peran dokter sepsialis bisa memberikan edukasi ke wanita tersebut. Kira-kira layak hamil atau tidak. Kalau misal nanti hamil dan beresiko disarankan untuk tidak hamil,” jelas Agus.
Selain itu, upaya terobosan lain juga dilakukan untuk menanggulangi kasus AKI dan AKB di Kabupaten Bantul.
Termasuk membentuk jejaring untuk screening layak hamil. Kemudian optimalisasi sistem rujukan, terutama untuk rujukan-rujukan ke rumah sakit PONEK.
Baca Juga: Lawan Banjir, Ambulans Terbang di Atas Truk dengan Sirine Menyala Bikin Netizen Terpukau
Agus mengatakan, jika kasusnya kegawatdaruratan bisa langsung dirujuk ke rumah sakit. Bila memang akses ke rumah sakit lebih cepat bisa dilakukan di sana.
Namun apabila kegawatdaruratannya ditemukan di puskesmas, nanti akan dilakukan upaya stabilisasi terlebih dulu di puskesmas. Kemudian nanti akan segera dirujuk ke rumah sakit yang berkompeten.
“Khususnya kalau kasus kehamilan ya di rumah sakit PONEK,” ucapnya. (tyo)
Editor : Amin Surachmad