Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Meski Nihil Kasus, DKPP Bantul Optimalkan Poskeswan untuk Antisipasi Antraks

Gregorius Bramantyo • Jumat, 15 Desember 2023 | 21:55 WIB
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bantul Joko Waluyo. (Gregorius Bramantyo/Radar Jogja)
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bantul Joko Waluyo. (Gregorius Bramantyo/Radar Jogja)

BANTUL – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bantul memastikan wilayah Kabupaten Bantul masih nihil atau belum terdapat kasus antraks.

Untuk mengantisipasi antraks maupun penyakit menular lain pada hewan ternak, DKPP Bantul mengoptimalkan pos kesehatan hewan (poskeswan).

Kepala DKPP Bantul Joko Waluyo mengatakan, sejauh ini kasus antraks yang terjadi di luar Kabupaten Bantul tidak memberikan dampak negatif terhadap kesehatan hewan di wilayah Kabupaten Bantul. 

"Sampai sekarang di Bantul, alhamdulillah tidak ada antraks. Untuk mengantisipasi itu, kami melakukan pengawasan ketat terhadap lalu lintas ternak maupun ternak yang ada di pasar pasar hewan," katanya kepada wartawan, Jumat (15/12).

Untuk pasar hewan besar di Bantul sendiri terdapat di Kapanewon Imogiri. Di mana setiap pasaran Legi, jumlah sapi yang masuk mencapai ratusan.

"Di setiap pasaran itu, sapi yang ada yang masuk ke pasaran sekitar delapan ratusan ekor. Tapi, ya  paling dari luar Bantul, seperti Wonogiri, Pacitan, dan sekitarnya," ucap Joko.

Guna melakukan pengawasan terhadap hewan ternak, DKPP Bantul mengoptimalkan poskeswan di 10 titik yang tersebar di seluruh kapanewon di Kabupaten Bantul.

Masing-masing poskeswan terdapat dokter hewan berjumlah rata rata dua orang. “Kemudian ada petugas paramedis," ujar Joko.

Ia mengatakan, di dalam poskeswan tersebut juga ada program vaksinasi ternak untuk mengantisipasi antraks.

Selain memeriksa kondisi kesehatan hewan ternak yang masuk ke Bantul. Juga ada pemberian desinfektan untuk ternak.

"Karena antraks itu kan spora bisa hidup di dalam tanah sampai puluhan tahun. Kami antisipasi baik lewat desinfektan atau antiseptik, yang penting selalu jaga kebersihan ternak," jelasnya.

Baca Juga: Menyerang Wasit, Presiden Ankaragucu Dilarang Nyemplung ke Dunia Sepakbola Seumur Hidup

Di Kabupaten Bantul sendiri juga banyak masyarakat yang memiliki usaha jual ternak maupun kuliner dari olahan ternak kambing, domba, sapi, dan kerbau.

Selain itu, ada lebih dari 30 jagal atau pelaku potong sapi di Kabupeten Bantul yang setiap harinya bekerja memotong ternak tersebut. Kemudian didistribusikan ke Kota Jogja.

Kemudian juga ada ratusan pelaku kuliner olahan hewan ternak yang kemudian dijual oleh masyarakat Kabupaten Bantul. Salah satunya adalah kuliner sate klatak yang bahan bakunya berasal dari hewan ternak.

Joko menyebut, apabila antraks menyerang ternak, baik dalam skala besar maupun kecil, maka berpotensi menimbulkan permasalahan ekonomi di Kabupaten Bantul.

Untuk itu, pihaknya terus melakukan pengawasan ketat terhadap sejumlah hewan ternak di Kabupaten Bantul.

"Karena terus terang mobilitas ternak untuk keluar atau masuk di Kabupaten Bantul itu masih cukup tinggi untuk dipergunakan menjadi bahan baku kuliner," terangnya. (tyo)

Editor : Amin Surachmad
#kabupaten bantul #dkpp #Poskeswan #antraks