BANTUL – Status darurat kekeringan di Kabupaten Bantul akan diperpanjang hingga 31 Desember 2023 mendatang.
Hal ini disebabkan kekeringan masih terus terjadi dan air bersih masih terus disalurkan ke sejumlah wilayah. Meskipun hujan telah turun di Kabupaten Bantul sejak pertengahan November 2023.
Kepala Bidang Kedaruratan Logistik dan Peralatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul Antoni Hutagaol menjelaskan, pertimbangan diperpanjangnya status darurat bencana kekeringan ini karena Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan hingga Desember situasi masih relatif kering.
Pihaknya juga telah melaksanakan rapat dengan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) dan BMKG untuk memutuskan perpanjangan status siaga kekeringan.
Sebelumnya, status darurat kekeringan di Kabupaten Bantul akan berakhir pada 30 November 2023.
“Status perpanjangan akan kami ajukan ke bupati. Kami sudah bikin draftnya dan itu akan kami ajukan ke bupati untuk disepakati diperpanjang satu bulan lagi,” katanya, Rabu (29/11).
Ia menyebut, hujan dalam beberapa hari terakhir belum memberikan pengaruh lebih terhadap kondisi sumber mata air.
Oleh karena itu, distribusi air bersih masih menjadi langkah untuk mencukupi kebutuhan masyarakat.
“Hujannya cuma hujan pembukaan saja, masih masa transisi dari musim kemarau ke musim hujan. Intensitas masih sedang atau di bawah normal,” ujarnya.
Berdasarkan data BPBD Bantul sejak 1 Juli hingga 27 November 2023, sebanyak 46.552 jiwa merasakan dampak kekeringan selama kemarau berkepanjangan di Kabupaten Bantul.
Jumlah tersebut terdiri 11.769 keluarga dari 80 dusun yang berasal dari 25 kalurahan di 11 kapanewon.
Adapun jumlah air yang telah disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan mencapai sebanyak 9.685.000 liter air.
Dari jumlah tersebut, BPBD Bantul menyalurkan 598 tangki, PMI Bantul 794 tangki dan Dinas Sosial Bantul melalui Tagana Bantul sebanyak 334 tangki.
“Masih adanya masyarakat yang memohon untuk dropping air. Kami pikir ya sudah kami perpanjang satu bulan lagi,” ucap Antoni.
Antoni mengatakan, pihaknya masih memiliki anggaran yang cukup untuk pendistribusian air bersih.
Saat ini, BPBD Bantul masih memiliki 44 tangki air bersih untuk disalurkan. Di luar itu juga masih ada stok air bersih dari donasi relawan.
“Mudah-mudahan bisa sampai Desember agar kebutuhan masyarakat masih bisa kami penuhi,” harapnya.
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Yogyakarta Warjono menjelaskan, dari data BMKG, intensitas hujan memang sudah merata.
Hanya saja ketersediaan air tanah masih kurang. Hal itu salah satunya disebabkan karena kurangnya serapan air hujan.
“Status (darurat kekeringan) diperpanjang dikarenakan kondisi air tanah yang belum mencukupi,” jelasnya. (tyo)
Editor : Amin Surachmad