BANTUL - Alat penumbuk padi tradisional atau lebih dikenal dengan lesung terus dilestarikan di Museum Tani Jawa. Tak hanya bisa melihat wujud dan memahami tentang fungsinya.
Di museum yang berlokasi di Padukuhan Candran, Kalurahan Kebonagung, Imogiri, Bantul, itu pengunjung juga bisa ikut nutu. Menumbuk padi.
Pengelola Museum Tani Jawa Rahayu Liyantini mengatakan, lesung saat ini memang telah ditinggalkan oleh para petani. Khususnya, saat sudah ada teknologi penggilingan padi dengan mesin.
Tak hanya itu, lesung sendiri hanya dimiliki oleh masyarakat tertentu saja. Jenis kayu yang digunakan pun beragam. Ada yang dari kayu jati, nangka, dan munggur.
“Jenis kayunya itu menunjukkan status sosialnya. Kalangan menengah ke bawah pakai kayu munggur. Yang statusnya tinggi, pakai kayu jati,” ujarnya saat ditemui Radar Jogja, Jumat (24/11).
Selain itu, lesung pun memiliki bagiannya sendiri. Kotak panjang di bagian tengah digunakan untuk menumbuk gabah. Memisahkan padi dari tangkai dan kulitnya. Sementara lubang di bagian pinggir merupakan tempat untuk menumbuk menjadi dedak.
Rahayu menyebut, saat ini fungsi lesung telah berubah di masyarakat. Jika dulu digunakan sebagai alat pertanian, kini lesung justru digunakan menjadi alat kesenian tradisional.
“Sekarang sudah beralih fungsinya menjadi alat musik tradisional, namanya gejog lesung,” katanya.
Museum Tani Jawa memiliki dua koleksi lesung. Yang pertama terbuat dari kayu jati dan berukuran besar.
Hingga kini pun masih digunakan sebagai gejog lesung. Sementara yang berukuran kecil terbuat dari kayu munggur.
“Yang ukurannya kecil hanya untuk koleksi saja,” jelasnya.
Di samping itu, Museum Tani Jawa tidak hanya sebatas mengenalkan kepada pengunjung soal lesung saja.
Itu karena masyarakat sudah banyak yang mengenal benda tersebut. Namun berupaya mengedukasi peran moral kepada masyarakat.
“Bahwa ternyata menumbuk padi itu bukan persoalan cepat menjadi beras karena kencangnya menumbuk, tetapi karena gesekan padi dengan padi yang berisi. Kalau ditumbuk dengan pelan nanti akan menjadi beras,” ucap Rahayu.
Baginya, hal itu memberikan pesan jika ingin menjadi orang baik, maka bertemanlah dengan orang baik pula. Sehingga memberikan afirmasi positif ke diri menjadi baik.
“Jadi kalau mau mencari teman atau pasangan, lihat dulu temannya. Kalau teman-temannya baik, insyaallah orang itu juga baik,” tandasnya. (tyo)