BANTUL - Siswa di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 2 Bantul diajari wiru jarik yang merupakan salah satu produk budaya Jawa. Wiru jarik ialah metode melipat jarik dengan lipatan kecil, kemudian dipakai pada busana Jawa.
Guru Bahasa Jawa MTsN 2 Bantul, Purwito Aji yang memiliki inisiatif tersebut. Dalam penyampaiannya menggunakan Bahasa Jawa karena memang sesuai mata pelajaran.
Bisa dikatakan kegiatan wiru jarik ialah merupakan kegiatan belajar bahasa Jawa dengan cara yang menyenangkan.
Baca Juga: Siswa MTsN 6 Sleman Moresca Yusufia Ken Dedes Raih Medali Emas Kejuaraan Anggar DIY"Saya harap siswa bisa mengenakan busana jawa dengan trep sesuai unggah-ungguhnya," ujar Purwito Aji, Rabu (15/11/2023).
Kegiatan Wiru Jarik sendiri bertujuan sebagai upaya pengenalan dan pelestarian budaya Jawa. Sekaligus untuk melatih empati, kesabaran dan ketelatenan para siswa.
Purwito menjelaskan, tentang motif jarik dan cara membedakan jarik dari dalam dan luar, termasuk asalnya. Jarik yang berwarna dasar putih merupakan jarik gagrag Jogja. Sedangkan jarik yang berwarna dasar cokelat merupakan gagrag Solo.
Purwito juga menjelaskan terkait atasan busana jawa, ada surjan, beskap, kutu baru, kartinian dan lain sebagainya.
Baca Juga: Siswa MTsN 1 Bantul Teliti Limbah Kulit Telur Jadi Bahan Pasta GigiSetiap siswa sebelumnya sudah diminga untuk membawa jarik dan surjan atau kutu baru. Siswa dijelaskan secara rinci berapa ukuran untuk wiru, karena ada perbedaan ukuran untuk jarik yang digunakan pria dan wanita.
Kemudian juga dijelaskan tentang cara memakai jarik. Dia berharap praktik wiru jarik dapat bermanfaat bagi siswa baik untuk masa sekarang maupu kemudian hari.
"Aja kleru motif yaa, motif e kudu bener, motif garuda ya aja kewalik, ngana uga motif lia-liane," ujarnya.
jelas Aji. Aji menghampiri kelompok per kelompok siswa dan membimbing siswa. Aji berharap dengan adanya praktik ini dapat menjadi bekal kemudian.
Baca Juga: Permudah CJH dengan Eazy Passport, Tidak Perlu Datang ke Wonosobo, Pembuatan Paspor Kemenag Mulai DiserbuSeorang siswa kelas 9B, Megie mengaku antusias dengan kegiatan praktik semacam ini. Menurutnya banyak manfaat yang didapatkan.
"Saya senang jadi tahu perbedaan jarik Jogja dan Solo, dan bisa berlatih mewiru juga. Tenyata wiru jarik membutuhkan kesabaran serta keuletan," ujarnya. (lan)