BANTUL - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul mencatat sembilan orang dinyatakan meninggal dunia karena terpapar penyakit leptospirosis. Jumlah tersebut terjadi selama rentang Januari hingga Oktober 2023.
Meski begitu, Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit Dinkes Kabupaten Bantul Samsu Aryanto mengatakan, pergerakan kasus leptospirosis pada beberapa waktu terakhir terpantau mengalami penurunan.
“Ada 160 kasus pada Januari hingga Oktober 2023,” katanya saat dihubungi, Kamis (9/11).
Ia merinci, ada 31 orang terkena leptospirosis pada Januari 2023. Lalu, 32 orang terkena leptospirosis pada Februari 2023, 29 orang pada Maret 2023, dan 24 orang pada April 2023. Kemudian, 18 orang terkena leptospirosis pada Mei 2023.
Selanjutnya, ada 10 orang terkena leptospirosis pada Juni 2023, satu orang Juli 2023, dan 9 pada Agustus 2023. “Tiga orang terkena leptospirosis pada masing-masing September dan Oktober 2023," ucap Samsu.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama kembali menekan kasus leptospirosis.
Sebab, sesuai hasil penyelidikan epidemiologi, kasus leptospirosis di Kabupaten Bantul memiliki kaitan yang erat dengan populasi tikus.
Lantaran penyakit tersebut muncul dan menyerang manusia melalui kencing tikus yang mengandung bakteri leptospira.
“Kemudian masuk melalui kulit yang lecet atau selaput lendir,” jelasnya.
Maka dari itu, Samsu mengingatkan kepada masyarakat untuk lebih sadar lagi dalam membersihkan tempat perindukan dan habitat tikus. Sebab hal-hal tersebut sangat berperan dalam penurunan kasus leptospirosis di Kabupaten Bantul.
Tidak hanya itu saja, pihaknya juga turut mengimbau kepada masyarakat untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang bersih. Terutama bagi masyarakat ataupun petani yang kerap bersinggungan dengan keberadaan tikus di sawah.
“Diimbau untuk menggunakan alas kaki atau alat pelindung tangan jika menyentuh lumpur atau air yang mungkin tercemar air seni binatang,” imbaunya. (tyo)
Editor : Amin Surachmad