BANTUL - Belasan proyek pembangunan irigasi di Bantul gagal terlaksana di tahun ini. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul memastikan hal tersebut tidak terkait secara langsung pada kasus korupsi yang menjerat eks Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL).
Kepala Bidang Sarana dan Prasarana DKPP Bantul, Arifin Hartanto mengklarifikasi pemberitaan yang tayang sebelumnya.
Di mana, disebutkan gagalnya proyek pembangunan irigasi di Bantul diduga berkaitan dengan kasus korupsi SYL.
Meskipun kegiatan pembangunan irigasi tersebut memang batal dilaksanakan tahun ini.
“Tapi, kami tidak menyimpulkan hal itu terkait dengan terjadinya korupsi di Kementerian Pertanian. Mohon maaf hal ini agar dapat diluruskan,” katanya, Minggu (5/11).
Pada pemberitaan sebelumnya, disebutkan ada 19 proyek pembangunan irigasi yang gagal terlaksana di Bantul tahun ini. Sembilan belas proyek tersebut berasal dari Kementerian Pertanian dengan anggaran masing-masing Rp 75 juta.
Proyek itu mulanya akan dikerjakan oleh Kementerian Pertanian sendiri. Namun batal terlaksana. Padahal, DKPP Bantul sudah menggelar sosialisasi di kelompok tani di sekitar lokasi proyek.
Meski begitu, Arifin menegaskan proyek pembangunan lainnya tetap berjalan di tahun ini. Seperti kegiatan yang didanai oleh Dana Alokasi Khusus (DAK) pada tahun 2023. Yakni, Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT) dan Jalan Usaha Tani (JUT).
“Dua kegiatan itu dapat berjalan dengan baik serta bermanfaat untuk petani dalam memenuhi kebutuhan air untuk tanaman,” ujarnya.
Di samping itu, kegiatan yang tidak berkaitan dengan irigasi juga berjalan lancar. Di antaranya pembuatan jalan usaha tani untuk sarana prasarana transportasi di kawasan pertanian.
“Sarana kerja dan pendukungnya di puskewan agar lebih memadai,” ucapnya.
Pembangunan irigasi tersier yang dilakukan oleh Pemkab Bantul sendiri mencakup 12 lokasi dengan anggaran masing-masing Rp 50 juta.
Pembangunan ini bertujuan untuk menguatkan irigasi tersier yang sebelumnya masih belum permanen.
Irigasi tersier permanen sendiri adalah yang sudah menggunakan tembok, tidak ada kebocoran, dan memiliki pintu.
“Irigasi teknis itu yang bisa diatur dan diukur. Harusnya ada pintu-pintunya itu yang masuk dari irigasi sekunder,” jelasnya. (tyo)