Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Uangnya Ditarik, 19 Irigasi Tersier di Bantul Gagal Dibangun Kementan Tahun Ini

Gregorius Bramantyo • Jumat, 3 November 2023 | 13:13 WIB
Ilustrasi logo Pemkab Bantul. (Istimewa)
Ilustrasi logo Pemkab Bantul. (Istimewa)
BANTUL - Sebanyak 19 pembangunan irigasi tersier di Bantul dari Kementerian Pertanian (Kementan) RI gagal berjalan pada tahun ini. Hal tersebut diduga disebabkan kasus korupsi yang menjerat mantan Menteri Pertanian Syahril Yasin Limpo. 
 
Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Bantul Arifin Hartanto mengatakan, pembangunan irigasi tersier dari Kementan di Bantul gagal berjalan.
 
Dari informasi yang didapatkannya, pembangunan irigasi ini sedianya akan dilaksanakan sendiri oleh pihak Kementan RI. Namun, batal terlaksana.
 
 
“Jadi, kemarin uangnya ditarik. Kemudian kami hanya melaksanakan beberapa kegiatan yang bukan irigasi. Mungkin ada imbas dari kasus SYL (Syahrul Yasin Limpo),” katanya kepada wartawan, Kamis (2/11).
 
Ia menyebut, pihaknya bahkan sudah melakukan sosialisasi kepada kelompok pertanian di 19 lokasi tersebut. Selain itu, pihaknya juga sudah terlanjur melakukan pemetaan dan menghitung rencana anggaran biaya (RAB).
 
Alokasi yang diberikan untuk pembangunan irigasi ini sebesar Rp 75 juta. Masing-masing lokasi dengan luas 50 hektare.
 
“Jumlah ini lebih besar dibanding anggaran pembangunan irigasi dari Pemkab Bantul, yakni sekitar Rp 50 juta,” ujar Arifin.
 
 
Meskipun pembangunan irigasi tersier gagal, namun Pemkab Bantul tetap berencana membangun irigasi tersier menggunakan anggaran pemkab.
 
Ada 12 lokasi yang dibangun irigasi tersier. Terutama di wilayah yang memiliki sumber irigasi, namun belum ternaungi irigasi tersier permanen.
 
“Saat ini masih sangat sedikit wilayah yang ter-cover irigasi tersier permanen, yakni yang sudah menggunakan tembok, tidak ada kebocoran dan ada pintunya,” jelasnya.
 
Arifin menambahkan, hal itu bukan berarti wilayah yang belum ternaungi irigasi tersier permanen belum memiliki irigasi.
 
 
Untuk wilayah yang memang punya sumber irigasi utama, biasanya sudah memiliki irigasi tersier.
 
Namun masih sederhana yakni dari tanah. “Ada juga yang membuatnya dengan swadaya,” ucapnya.
 
Sedangkan beberapa wilayah yang tidak memakai irigasi tersier tersebar di daerah perbukitan. Seperti Kapanewon Pajangan, Dlingo, Kasihan, dan Piyungan. Hal itu karena memang tidak ada sumber air di daerah tersebut.
 
"Di sana para petani menggunakan sumur untuk pengairan lahan,” katanya. (tyo)
 
Editor : Amin Surachmad
#kementan #irigasi #Bantul