Kekeringan, Sedayu dan Banguntapan Akhirnya Juga Minta Dropping Air Bersih
Gregorius Bramantyo• Jumat, 20 Oktober 2023 | 04:42 WIB
Warga menyedot selang untuk mengalirkan air yang bersumber dari mata air ke rumahnya, di Dusun Kalidadap 1, Kalurahan Selopamioro, Kapanewon Imogiri, Bantul, Selasa (29/8/23).
RADAR JOGJA - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bantul mencatat sebanyak 10 kapanewon di Kabupaten Bantul terdampak kekeringan karena kemarau. Dua kapanewondi antaranya merupakan wilayah baru yang meminta permohonan droping air bersih.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Bantul, Antoni Hutagaol mengatakan, dari data per 18 Oktober 2023 ada 10 kapanewon terdampak kekeringan. Dua wilayah baru ada di Kapanewon Sedayu dan Banguntapan.
“Selain dua kapanewon yang baru tersebut, permohonan droping air bersih yang masuk ke kami adalah Piyungan, Kasihan, Pajangan, Pundong, Pleret, Pandak, Imogiri dan Dlingo,” katanya kepada wartawan, Kamis (19/10).
Ia menjelaskan, wilayah Sedayu yang mengajukan permohonan droping air bersih ada di Kalurahan Argomulyo. Hal itu karena masyarakat di sana mengalami kesulitan air bersih. Sedangkan droping air bersih di Kapanewon Banguntapan berada di wilayah Kalurahan Banguntapan.
“Ada dua tambahan kapanewon baru, makanya langsung menambah jumlahnya. Mereka sebelumnya aman, tapi di saat kekeringan yang seperti ini mereka muncul karena tahun ini luar biasa ekstrem. Sedangkan tahun sebelumnya kemarau basah," ujarnya.
Ia menuturkan, berdasarkan catatan BPBD Bantul, droping air bersih di Kabupaten Bantul sejak awal kemarau, yakni 1 Juli hingga 18 Oktober 2023, telah disalurkan sebanyak 4,5 juta liter air bersih. Jutaan liter air bersih tersebut disalurkan ke 10 kapanewon di Bantul.
Meliputi 18 kalurahan dan 39 padukuhan. Sementara data keluarga yang terdampak kekeringan di 10 kapanewon tersebut sebanyak 8.834 kepala keluarga. Yang terdiri 34.635 jiwa.
Sedangkan rincian distribusi tangki air yaitu sebanyak 247 tangki. Rinciannya sebanyak 86 tangki bersumber dari APBD dan 161 tangki dari donatur yang melalui BPBD. Kemudian 406 tangki air dari Palang Merah Indonesia (PMI) Bantul, 184 tangki air dari Dinsos Tagana Bantul, dan 94 tangki dari donasi.
Antoni menjelaskan, jumlah stok air di BPBD Bantul berjumlah 382 tangki. Namun baru terpakai 86 tangki. “Karena begitu banyaknya donatur yang sangat peduli dan mereka minta untuk segera disalurkan. Jadi sisanya sekitar 296 tangki air," jelasnya.
Ia menambahkan, meskipun banyak masyarakat membutuhkan droping air bersih, namun stok air bersih di BPBD Bantul masih aman. Hal itu karena dalam penanggulangan kekeringan, BPBD Bantul juga dibantu instansi lain dan donatur dari swasta. "Kami tidak mengajukan lagi di anggaran tak terduga, tetap kami alokasikan sesuai yang direncanakan," ucapnya. (tyo)