RADAR JOGJA - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul mendorong masyarakat untuk menanam tujuh hingga sepuluh komoditas selain padi di lahan produktif. Hal tersebut bertujuan untuk mendukung kedaulatan pangan di Kabupaten Bantul.
Wakil Bupati Bantul Joko Purnomo mengatakan, kondisi ketahanan dan kedaulatan pangan di Kabupaten Bantul masih tergolong aman. Saat ini, komoditas beras di Kabupaten Bantul mengalami surplus 100 ton beras. “Padahal luas lahan pertanian di Kabupaten Bantul terus menurun,” katanya.
Joko Purnomo menjelaskan, saat ini Bantul sudah berdaulat dalam hal pangan. Kecuali komoditas tertentu seperti kedelai. Hal itu disebabkan lahan kedelai dan antusiasme petani untuk menanam kedelai masih kurang.
Maka dari itu, dia mengajak seluruh jajaran Pemkab Bantul, termasuk 17 panewu untuk berpartisipasi memikirkan kewujudan ketahanan dan kedaulatan pangan. Dengan pemberdayaan lahan pertanian, lahan yang produktif bisa ditanami minimal tujuh sampai sepuluh komoditas di luar beras. "Kita harus sudah mulai melaksanakan atau berpikir bagaimana mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan di setiap wilayah," ujarnya.
Dia berharap, pemberdayaan pertanian dan lahan produktif itu dapat dilakukan oleh seluruh kapanewon. Termasuk masyarakat yang memiliki lahan-lahan produktif di Kabupaten Bantul. Dengan begitu, harapannya tidak akan terjadi persoalan krisis pangan yang mungkin terjadi di Bantul.
"Kami harapkan dapat memprogramkan untuk membantu mereka di sektor bibit, sektor budi daya, penyuluhan, sosialisasi maupun pendampingan supaya mereka bisa berhasil," jelas Joko.
Selain itu, pihaknya berupaya menekan lahan-lahan pertanian yang beralih fungsi. Menurutnya, kewajiban pemerintah adalah membantu masyarakaat agar proses pemanfaatan lahan bisa berjalan baik. Dengan begitu, masyarakat diharapakan tidak melepaskan tanahnya untuk beralih fungsi. Namun tetap bisa menikmati hasil dari produksi pertanian. “Kalau tidak beralih fungsi jadi perumahan atau yang lain, perlu dibantu,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Bantul Joko Waluyo mengatakan, kondisi Bantul saat ini sudah kedaulatan pangan. Bukan lagi ketahanan pangan. Sejumlah komoditas mengalami surplus. Termasuk surplus 100 ribu ton gabah kering giling pada 2022 lalu. “Di 2023 ini walaupun ada el nino memang terjadi penurunan luas panen padi di akhir tahun ini, tapi hanya kecil dibanding tahun 2022,” jelasnya.
Meski demikian, ada peningkatan panen dari komoditas kacang tanah dan jagung. Selain itu, 60 persen hortikultura produksi DIJ berasal dari Bantul. Misalnya cabai Bantul yang menjadi pemasok nomor tertinggi nomor tiga di DIJ. Sementara untuk bawang merah, Bantul menjadi pemasok tertinggi dengan persentase 56 persen. “Jadi kami aman walaupun terjadi beberapa penurunan tapi hanya kecil, tidak begitu signifikan,” ungkapnya. (tyo/eno)
Editor : Satria Pradika