RADAR JOGJA - Persemayaman terakhir Djoko Pekik di Plataran Djoko Pekik di Dusun Sembungan, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, layaknya peristiwa seni dan budaya. Selain melukis on the spot, puisi dan musik. Adapula alunan gamelan. Dipimpin langsung oleh pendiri Omah Cangkem dan Acapella Mataraman Pardiman Djoyonegoro.
Pardiman menuturkan ada permintaan khusus dari keluarga Djoko Pekik. Berupa gending Tlutur saat jenazah akan diberangkatkan dari rumah duka ke Makam Seniman Girisapto di Imogiri Bantul. Tlutur, lanjutnya, juga merupakan wasiat khusus dari Djoko Pekik kepada anak-anaknya.
“Jadi pesan beliau lewat putranya yang bernama mas Gogor, minta Tlutur pas pemberangkatan,” jelasnya ditemui di Plataran Djoko Pekik, Minggu (13/8).
Pardiman menjelaskan gending Tlutur memiliki makna kesedihan. Tersirat dari alunan musik gamelan dan liriknya. Namun, juga ada sedikit semangat di tengah-tengah kesedihan. Menurutnya ini sebagai perlambang bahwa kesedihan tak harus berlarut-larut.
Selain Tlutur, Pardiman juga membawakan Megatruh. Gending dihadirkan melalui tabuhan gamelan koleksi Djoko Pekik. Untuk wiyaga penabuh dan sindennya terdiri dari anak-anak asuhan dari Pardiman.
“Mungkin Pak Pekik ingin mengisyaratkan itu, tapi pada prinsipnya jiwa kesenian yang ditinggal tapi ini sebuah takdir dari hidup itu langgeng. Pak Pekik pindah alam yang lain, menandakan semangat energi tetap berlayar pada generasi muda,” katanya.
Sosok Djoko Pekik, lanjutnya, memiliki peran penting dalam perjalanan seni Pardiman. Sebelum memiliki studio Omah Cangkem, Pardiman dan anak asuhnya kerap berlatih di Plataran Djoko Pekik. Bahkan fasilitas ini atas saran langsung dari Djoko Pekik.
Djoko Pekik juga tidak pelit dalam memberikan saran dan kritik. Satu hal yang dia ingat adalah kejujuran dari seorang Djoko Pekik. Kala itu acapella asuhan Pardiman dinilai belum berkembang. Masih terkesan malumalu dan tidak memiliki ciri khas.
“Waktu itu bilang kurang gaul, tapi memang karena dulu minder. Jangan sampai seperti itu kata Pak Pekik hingga akhirnya difasilitasi buka karawitan di sini dengan anak-anak. Itu yang sulit, kritik tapi ra ngekei solusi, Pak Pekik kritik tapi ngekeki solusi. Kowe pindah nggonke wae latihan nggonku wae,” kenangnya. (dwi)