Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Djoko Pekik Jarang Pameran Tunggal, Seringnya Pameran Bersama

Rizky Wahyu Arya Hutama • Minggu, 13 Agustus 2023 | 00:31 WIB
DOA: Jenazah Djoko Pekik dalam peti yang sedang didoakan para pelayat di Rumah Duka, Bantul, Sabtu (12/8). (Rizky Wahyu/Radar Jogja)
DOA: Jenazah Djoko Pekik dalam peti yang sedang didoakan para pelayat di Rumah Duka, Bantul, Sabtu (12/8). (Rizky Wahyu/Radar Jogja)

 


BANTUL - Sang maestro lukis senior Djoko Pekik telah tutup usia di usia 86 tahun, di Jogjakarta, Sabtu (12/8) pagi. Kepergiannya menimbulkan duka banyak orang. 


Menurut pantauan Radar Jogja, sekitar pukul 14.00 Sabtu siang, para pelayat sudah banyak yang berdatangan di rumah duka. Mereka mendoakan Sang Maestro di aula rumah tersebut.


Sang maestro dikabarkan meninggal pada Sabtu pagi pukul 08.00 di Rumah Sakit Panti Rapih, Jogkakarta. Jenazah akan diberangkat sekitar jam 13.00 di Makam Seniman Imogiri pada hari minggu.


Semasa hidupnya, Djoko Pekik dikenal sebagai pelukis senior yang banyak menghasilkan karya yang bertemakan kerakyatan. Yang mana, lukisannya yang paling terkenal adalah lukisan "Berburu Celeng" yang disebut terjual dengan harga Rp 1 miliar. 


Putra pertama Djoko Pekik, Gogor Bangsa, mengatakan, ayahnya Djoko Pekik sakit karena berumur sudah tua. Yang mana, dalam usia yang sudah tua itu Djoko Pekik sudah mengalami kondisi yang kurang baik. 


"Pada hari Sabtu pagi, sempat tidak sadar. Lalu dibawa ke IGD, dan kira-kira sekitar jam 08.00 itu Bapak sudah tidak ada. Dan memang, Bapak itu sudah gerah sepuh," ujarnya, saat ditemui Radar Jogja di rumah duka Sabtu (12/8).


Gogor melanjutkan, pada Sabtu pagi itu ada beberapa seniman yang langsung ke rumah sakit setelah mendengar kepergian Sang Maestro. Antara lain, Eros Jarot, Romo Sindhunata, Bambang Paningron, dan Enchik Krisna. 


Gogor menjelaskan, sebelum ayahnya meninggal, kalau ke mana-mana sudah menggunakan kursi roda. "Ya, pada umumnya orang tua. Badannya bapak sudah melemah," katanya.


Kesibukan Djoko Pekik sebelum meninggal beberapa waktu lalu masih melukis. Yang mana, pada tahun 2022 lalu, Sang Maestro masih menggelar pameran tunggal di Bentara Budaya Yogyakarta. 


"Tahun 2022 bulan Maret itu adalah pameran tunggal Bapak yang terakhir," tegasnya.


Gogor membeberkan, terakhir ayahnya sempat melukis tentang potret dirinya sendiri. Lukisan tersebut sudah laku dibeli oleh kolektor. 


Di tahun 2023 ini, Djoko Pekik masih produktif untuk melukis. Dikatakan oleh Gogor, ada tiga sampai empat lukisan yang dibuat ayahnya pada tahun ini. 


"Pokoknya pas awal tahun, Bapak itu masih aktif melukis," tegasnya.


Djoko Pekik sebelum meninggal dunia tidak menyampaikan pesan khusus kepada keluarga. Namun, dalam akhir-akhir menjelang tutup usia, Djoko Pekik senang melewati Malioboro untuk melihat hiasan atau lampu-lampu jalan.


"Jadi, tadi dari rumah sakit pulang menuju ke rumah ini,Bapak kami lewatkan ke Malioboro dan lewat rumahnya yang di Kota, Wirobrajan sana," jelas Gogor.


Menurut Gogor, Djoko Pekik adalah sosok yang jarang melakukan pameran tunggal. Terbukti, sebelum pameran tunggalnya di tahun 2022, Djoko Pekik hanya pernah melakukan pameran tunggal pada tahun 2013 di Galeri Nasional Jakarta. 


Gogor menambahkan, sebelumnya Djoko Pekik melakukan pameran tunggalnya pada tahun 1989. "Yang jelas, Bapak itu jarang menggelar pameran tunggal. Bisa dikatakan, kurang dari 10 kali. Dan, paling sering itu hanya mengikuti pameran bersama," ungkapnya. (ayu) 

Editor : Amin Surachmad
#Djoko Pekik #Maestro Lukis