Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Panggungharjo Raup Puluhan Juta dari Sampah

Editor Content • Selasa, 27 September 2022 | 17:50 WIB
JADI CUAN: Suasana BUMDes Kupas yang merupakan unit usaha pengelolaan sampah milik Kalurahan Panggungharjo, Sewon, Bantul. Unit usaha ini bisa meraup keuntungan puluhan juta per bulan.(IWAN NURWANTO/RADAR JOGJA)
JADI CUAN: Suasana BUMDes Kupas yang merupakan unit usaha pengelolaan sampah milik Kalurahan Panggungharjo, Sewon, Bantul. Unit usaha ini bisa meraup keuntungan puluhan juta per bulan.(IWAN NURWANTO/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Kalurahan Panggungharjo, Kapanewon Sewon, Bantul, menjadi salah satu desa yang mandiri dalam pengelolaan sampah. Desa di sisi utara Bumi Projotamansari itu juga bisa meraup puluhan juta dari pengelolaan sampah yang dilakukan BUMDes Kupas.

Lurah Panggungharjo Wahyudi Anggoro Hadi mengatakan, BUMDes Kupas sendiri merupakan kepanjangan dari Kelompok Usaha Pengelola Sampah. Di mana salah unit usaha milik Kalurahan Panggungharjo itu sudah aktif sejak 2013 dan merupakan salah satu upaya dari pemerintah untuk memfasilitasi masyarakat dalam pengelolaan sampah. Serta menyikapi kondisi TPST Piyungan yang sering tutup dan kondisi overload.

Meski hanya bergerak di bidang pengelolaan sampah, Wahyudi menyatakan, pendapatan dari Kupas bisa mencapai Rp 80 juta per bulan. Pendapatan yang cukup besar itu dihasilkan dari penarikan retribusi pengangkutan sampah masyarakat hingga penjualan rongsok kepada industri pengolahan daur ulang.

“Untuk model pengolahannya sendiri, sampah organik dijadikan kompos dan pakan maggot (belatung). Sementara yang anorganik dijual kepada industri daur ulang serta dibuat kayu berbahan dasar plastik,” ujar Wahyudi kemarin (26/9).

Dalam menjalankan BUMDes Kupas, Wahyudi mengungkapkan pihaknya juga punya misi untuk mengubah perilaku masyarakat dalam memilah sampah. Harapannya masyarakat bisa bertanggung jawab atas sampahnya sendiri. Upaya itu diwujudkan dengan pendirian bank sampah.

Diakui, dalam mengubah perilaku masyarakat untuk memilah sampah memang bukan hal mudah. Sebab, pada awalnya hanya 18 persen warga Panggungharjo yang mau memilah sampah. Namun dengan program tabungan emas, minat masyarakat untuk memilah sampah pun meningkat. Hingga kini setidaknya sudah ada 1.600 nasabah bank sampah yang terintegrasi dengan tabungan emas.

“Tahun 2020 kami melakukan skema disinsentif, yang mau memilah sampah mendapat tabungan emas dan yang tidak mau memilah sampah retribusinya dijadikan dua kali lipat. Itu untuk memaksa lebih banyak lagi keluarga yang mau memilah sampah,” bebernya.

Sementara di tahun ini, Wahyudi menyampaikan BUMDes Kupas juga menggandeng aplikasi digital bernama Pasti Angkut. Aplikasi itu memiliki fungsi pengangkutan sampah dari rumah warga dengan pembayaran retribusi secara digital atau hanya cukup melalui aplikasi smartphone.

Ia pun yakin berbagai program dari BUMDes Kupas juga akan membantu pemerintah kabupaten dalam mewujudkan misi Bantul Bersih 2025. Sebab, BUMDdes itu memiliki keunggulan zero waste atau pengolahan sampah yang bersih dan tidak menyisakan limbah. “Di sini kami mengubah sampah menjadi komoditas dan semuanya bisa diolah. Entah itu sampah organik maupun anorganik,” ujar Wahyudi. (inu/laz) Editor : Editor Content
#Bantul