Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Cerita Danarto, Korban Selamat Laka Maut Bukit Bego

Editor News • Senin, 7 Februari 2022 | 21:26 WIB
TRAUMA : Salah seorang korban kecelakaan maut Bukit Bego, Danarto menceritakan detil kejadian kecelakaan maut Bukit Bego Imogiri Bantul. (DWI AGUS/RADAR JOGJA)
TRAUMA : Salah seorang korban kecelakaan maut Bukit Bego, Danarto menceritakan detil kejadian kecelakaan maut Bukit Bego Imogiri Bantul. (DWI AGUS/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Salah seorang korban kecelakaan maut Bukit Bego, Danarto menceritakan detil kejadian. Pria berusia 38 tahun ini ingat persis detik-detik sebelum kecelakaan. Berawal dari bus PO Gandos Abadi yang sempat macet di Bukit Becici. Hingga akhirnya bus menabrak tebing di ruas jalan Dlingo-Imogiri ini.

Bus yang ditumpangi rombongan Sukoharjo Jawa Tengah ini sempat macet. Tepatnya saat perjalanan dari Tebing Breksi Sleman menuju Bukit Becici Bantul. Hanya saat itu supir masih bisa melakukan pengereman. Danarto menduga supir telah melakukan perpindahan persneling.

“Sampai di Becici sekitar jam 10.00 WIB langsung ke wisata, jam 12.00 WIB makan. Jam 12.30 WIB berangkat ke Parangtritis lewat hutan pinus. Terakhir di tengah kelok tinggi, mulai kejadian bus agak kelihatan tidak baik,” jelasnya ditemui di RS PKU Muhammadiyah Bantul, Senin (7/2).

Saat bus berada di jalan tanjakan, Danarto menuturkan para penumpang sudah panik. Supir bahkan sempat berteriak kepada kernet bus untuk mengganjal ban. Hingga akhirnya bus bisa berhenti setelah ban terganjal batu.

Para penumpang sempat turun dari bus. Kernet juga sempat memeriksa filter solar kotor. Hanya saja kondektur bilang bus baru saja melakukan servis sepekan sebelumnya. Hingga akhirnya penumpang naik lagi kedalam bus setibanya di puncak tanjakan.

“Sampai keluar dari hutan (hutan Pinus), posisi mesin kecepatan tinggi. Persneling itu masuk 3, benar saat di (persneling) 1 dan 2 tidak masalah saat gigi kecil semakin menanjak. (Persneling) 4 mulai turun, supir agak enggak konsen, pindah persneling tidak fungsi. Rem dikocok tidak bisa akhirnya meluncur,” katanya.

Danarto mengingat sempat terjadi 3 benturan. Saat itu di sisi kiri bus adalah jurang, sisi depan adalah truk pasir. Supir lalu memilih banting stir ke kanan. Harapan kecepatan berkurang, justru meluncur dengan kecepatan tinggi.

“Saat lurus ditikungan ada elf bawa pasir, ambil ke kanan, langsung banting diambilin tebing. Bunyi duk kaca pecah saya terlempar keluar masuk selokan. Mau berdiri tapi ketumpuk orang banyak,” ujarnya.

Saat kejadian badan Danarto sempat terbanting. Tak berselang lama di terlempar keluar dari bus saat menabrak tebing. Posisi duduknya saat itu berada di samping kanan, tepatnya di belakang supir.

Fokus pertama Danarto adalah mencari keluarganya. Berjalan merayap dia berhasil menemukan anak pertamanya Elsa Ramadani, 12, setelahnya sang istri Sri Rahayu, 35, anak keempat Dwi Oktavia, 7 dan mertuanya Suminah.

“Saya mengalami luka di kepala, berdarah saat itu. Lalu pinggang kiri dan lutut kanan. Luka keluarga kebanyakan di kepala karena benturan,” katanya.

Danarto menceritakan rombongan ini tamasya drai Sukoharjo Jawa Tengah. Tepatnya karyawan konveksi dan para keluarganya. Rombongan bertamasya ke Tebing Breksi Sleman, Bukit Becici Bantul dan diakhiri di Pantai Parangtritis Bantul.

“Awalnya mau ke Malioboro tapi tidak jadi karena PKL dipindah lalu ke Breksi. Nah disini (tebing Breksi) kendala bus sudah kelihatan tdiak kuat. Bus tahun 2008, dirombak, bus model baru voyager,” ujarnya. (dwi) Editor : Editor News
#Cerita korban kecelakaan maut #korban kecelakaan maut #Kecelakaan maut Bukit Bego #PO Gandos Abadi