Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Produsen Minuman Herbal Terkendala Bahan Baku

Editor Content • Rabu, 2 Februari 2022 | 18:15 WIB
MODERN: Petani di Kabupaten Bantul saat menanam padi menggunakan mesin. Hasil tanam menjadi lebih cepat dan efisien. (RADAR JOGJA FILE)
MODERN: Petani di Kabupaten Bantul saat menanam padi menggunakan mesin. Hasil tanam menjadi lebih cepat dan efisien. (RADAR JOGJA FILE)
RADAR JOGJA – Bumi Projotamansari tersohor sebagai produsen minuman herbal. Namun pengusahanya harus mencari bahan baku keluar wilayah.
Seorang pengusaha minuman herbal di Bantul adalah Nur Kholis. Bersama istrinya, Unun Matoyah, dia memproduksi aneka bubuk jamu instan, teh jamu, dan wedang uwuh siap seduh. Tapi, rempah-rempah yang digunakan untuk membuat wedang uwuh, mayoritas diperoleh dari luar Bantul. “Seperti kapulaga, cengkeh, kayu manis, sama secang saya ambil di Pasar Beringharjo,” paparnya kepada Radar Jogja Selasa (1/2).

Ayah tiga putra ini pun mengaku, kerap kesulitan mencari asam jawa. Sehingga dia harus memenuhi kebutuhannya dengan mendatangi Pasar Beringharjo. Padahal, sedianya dapat diperoleh dari pengepul di wilayah Kasihan, Bantul. “Tapi paling pokok, bahan untuk wedang uwuh yang harus ke Pasar Beringharjo,” sebutnya.

Sementara rempah-rempah yang mudah didapat, umumnya merupakan bahan baku jamu peras dan jamu instan. Antara lain, temulawak, kencur, jahe, temu hitam, kunyit, kunyit putih, dan jeruk nipis. Lantaran petaninya berasal dari wilayah Bantul, seperti Imogiri, Pleret, Mangunan, Dlingo, dan Siluk dan Banguntapan. “Jadi kami masih bisa mencukupi pengambilan bahan baku masih dari Bantul,” ucapnya.

Photo
Photo


Terpisah, Kepala DKUKMPP Bantul Agus Sulistiyana menyebut sentra jamu di Bantul merupakan potensi yang luar biasa. Agus pun menyayangkan ketersediaan petani yang minim. Sehingga pengusaha minuman herbal harus mencari bahan baku ke luar Bantul. “Kalau bicara tentang kolaborasi, mohon support pertanian,” tegasnya.

Agus percaya, Bantul merupakan lahan yang subur. Sehingga tanaman bahan baku jamu, semestinya dapat dibudidayakan. Modalnya pemberdayaannya, dapat menggunakan dana dari koperasi milik BUMD atau BUMKal. “Coba uang tersebut dimanfaatkan, untuk memodali petani agar menanam tanaman jamu yang kemungkinan besar bisa tumbuh,” ujarnya.

Selain tanaman bahan baku jamu, Agus juga menyinggung potensi pohon pisang. Bukan hanya buahnya yang memiliki nilai ekonomi. Tapi juga batang pohonnya. Salah satu perajin anyaman pokok pisang berlokasi di Pandak. “Pengusaha ini mengambil dari Bojonegoro, Jawa Timur. Apakah masyarakat Bantu tidak bisa? Tentu bisa,” tandasnya. (fat/eno) Editor : Editor Content
#Bumi Projotamansari #Bantul