Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kisah Pertemuan dengan Sang Ibu Usai Berpisah 15 Tahun Berkat Sosmed

Editor News • Rabu, 8 September 2021 | 05:49 WIB
CANGGUNG: Awal kedatangan, Ajeng tak menampik sempat canggung. Terlebih ini kali pertama bertemu selama 15 tahun berpisah dengan ibu kandungnya. (DWI AGUS/RADAR JOGJA)
CANGGUNG: Awal kedatangan, Ajeng tak menampik sempat canggung. Terlebih ini kali pertama bertemu selama 15 tahun berpisah dengan ibu kandungnya. (DWI AGUS/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA – Kisah pertemuan anak dan ibu yang telah lama terpisah ternyata benar-benar nyata. Ekspresi kebahagiaan tampak dari mata Ajeng Ayu Salma, 19, setelah bertemu dengan ibunya selama 15 tahun berpisah. Awal kedatangan, Ajeng tak menampik sempat canggung. Pertemuan terakhir dengan ibu kandungnya saat masih berusia 4 tahun.

Setiba di rumah ibunya, Ajeng bertemu dengan 2 adik sepersusuanya. Masing-masing kelas 2 SD dan 6 SD. Disinilah Ajeng juga harus menyesuaikan diri. Terlebih ini juga kali pertama pertemuan dengan adik-adiknya.

"Awalnya canggung tapi akhirnya lengket cair juga, cewek dan cowok. Di Blitar aku anak tunggal, di sini jadi kakak. Kalau dk Bogor jadi anak tengah," katanya.

Ajeng menceritakan masa kecilnya. Lahir di Bogor pada 1 Maret 2002. Sosok D sendiri merupakan istri kedua dari ayahnya yang berinisial AR. Sejak bayi hingga usia 4 tahun, Ajeng diasuh oleh nenek dari ayahnya.

Ayah dan ibu kandungnya memutuskan untuk berpisah saat Ajeng berusia 2 tahun. Lalu pada usia 4 tahun, Ajeng dibawa oleh ibu kandungnya. Untuk kemudian diberikan kepada orangtua angkat di Jakarta.

Saat duduk di bangku kelas 1 Sekolah Dasar, orangtua angkat mengajak Ajeng pindah ke Palangkaraya Kalimantan Tengah. Setelahnya pindah lagi ke Blitar Jawa Timur hingga kelas 1 SMA.

Hubungan yang kurang harmonis dengan orangtua angkat membuat Ajeng nekat kabur ke Malang Jawa Timur. Kala itu Ajeng sudah berusia 16 tahun. Lalu pada medio 2019 Ajeng berkomunikasi dengan adik kandung ayahnya melalui Instagram.

"Oktober 2019 dijemput kakak tiriku dan sampai sekarang aku tinggal di Bogor bersama mereka. Tapi papah sudah meninggal 4 tahun sebelumnya. Tapi bisa ketemu nenek yang mengasuh saat masih kecil," kisahnya.

Kehidupan Ajeng mulai membaik saat pulang ke rumah ayah kandungnya. Dia juga melanjutkan sekolah terbuka setingkat SMA. Disini Ajeng mulai memantapkan diri untuk mencari ibu kandungnya.

"Februari 2021 sempat ke Jogjakarta mau ke Dinas Dukcapil. Sempat komunikasi juga dengan ayah di Blitar. Minta surat tapi enggak dikasih. Jadi susah carinya," ujarnya.

Kepergian ke Jogjakarta kala itu atas respon unggahan di media sosial twitter. Cerita tentang Ajeng mencari ibu kandungnya menghiasi timeline media sosial dari medio 2019 hingga 2020. Foto sang ibu menggendongnya saat bayi sempat viral kala itu.

"Di TikTok ada kembaran yang saling mencari. Terinspirasi dari situ akhirnya pakai twitter. Responnya banyak dan banyak yang bantu," katanya.

Setelah bertemu ibu kandungnya, Ajeng bercerita tentang kehidupannya. Perpisahan selama 15 tahun dia lampiaskan dengan temu kangen. Sepekan lebih Ajeng bisa bersilaturahmi dengan ibu kandungnya.

Setelah ini Ajeng akan kembali ke Bogor. Tujuannya untuk merampungkan jenjang pendidikannya. Apalagi dalam waktu dekat akan menjalani ujian kelas XII.

"Nanti sekitar tanggal 20 September pulang dulu. Sekarang sudah kelas XII, mau fokus ujian dulu. Masalah mau kuliah dimana itu nanti," ujarnya.

D, sang ibu kandung juga menceritakan rasa kangennya. Berawal saat dia mengerikan nama lengkap anaknya di mesin pencarian Google. Hingga akhirnya tertautkan ke sejumlah akun media sosial.

Tak disangka, niat ini berbuah sangat manis. Dibantu oleh teman-temannya, D akhirnya bisa berkomunikasi dengan anak sulungnya. Hingga akhirnya saling bertukar nomor gawai.

"Saya buka google pakai nama dia, nemu 20 berita. Lalu inbox ke Facebook, dibalas pagi. Awalnya ditanggapin judes, diminta selfie, tapi dia kayak segan mau kasih nomer Ajeng. Akhirnya saya telpon bibinya, ngobrol dulu baru akhirnya ada Whatsapp dadi Ajeng," ceritanya.

Setelah komunikasi terbuka, hampir setiap hari ibu dan anak ini saling bertelepon. Tak tanggung-tanggung, terkadang waktu telepon bisa mencapai 5 jam. Bahkan saat itu berkomunikasi dengan panggilan video.

Untuk memberikan rasa nyaman, D juga sempat konsultasi kepada temannya. Hasilnya, D jangan egois saat bisa berkomunikasi dengan anaknya. Walau membendung rasa kangen, namun juga tetap memberikan kebebasan kepada anaknya.

"Seharian telpon sampai 5 jam, 3 hari video call  sama saya. Lalu ada pikiran kok saya egois. Saya konsultasi ke teman saya lalu diberi tahu agar menjaga rasa nyaman. Perpisahan 15 tahun itu bukan waktu yang sebentar," katanya.

D mengaku sudah berpisah dengan ayah kandung Ajeng sejak 2006. Walau begitu selama beberapa tahun masih berkomunikasi dengan anaknya. Hingga akhirnya kehilangan kontak setelah dibawa oleh orangtua angkatnya.

D menyadai, tindakannya saat itu tidaklah tepat. Alih-alih mengasuh anaknya sendiri, justru memberikan kepada temannya. Rasa penyesalan masih terpatri di benak D hingga saat ini.

Dia tak mempermasalahkan jika Ajeng marah pada dirinya. Pernyataan ini dia lontarkan saat melakukan telepon dengan anaknya. Terlontar kembali saat akhirnya bisa bertemu secara fisik.

"Saya bilang mau marah sama mama terserah saya sudah siap. Ini konsekuensi. Saya senang ketemu anak saya sehat enggak ada kurang apapun. Bersyukur saja semua masalah ada hikmahnya," ujarnya.

D juga membebaskan keinginan Ajeng. Untuk memilih tinggal dengan orangtuanya. Apalagi saat ini Ajeng memiliki tiga orangtua sekaligus. Keluarga ayah kandung di Bogor,  keluarga angkat di Blitar dan ibu kandung di Jogjakarta.

"Bebaskan agar dia nyaman, pilihannya mau ikut siapa. Ada saudara, ada orangtua tiga. Saya sudah senang sekali, berdoa enggak putus-putus bisa ketemu anak," tutupnya. (dwi/sky) Editor : Editor News
#Sosmed #Banguntapan